Rakernas II IDI, Ma'ruf Amin Soroti Indikator Kesehatan yang Masih Tertinggal

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Ma'ruf Amin (tengah) bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kiri) dan Bupati Kabupaten Bekasi Eka Supriatmaja (kanan) meninjau simulasi pemberian vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis, 19 November 2020. Pada kunjungan tersebut Wakil Presiden Ma'ruf Amin meninjau satu persatu tahapan simulasi pemberian vaksin COVID-19. ANTARA/Fakhri Hermansyah

    Wakil Presiden Ma'ruf Amin (tengah) bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kiri) dan Bupati Kabupaten Bekasi Eka Supriatmaja (kanan) meninjau simulasi pemberian vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis, 19 November 2020. Pada kunjungan tersebut Wakil Presiden Ma'ruf Amin meninjau satu persatu tahapan simulasi pemberian vaksin COVID-19. ANTARA/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin, menyoroti indikator kinerja kesehatan utama Indonesia yang masih tertinggal dari negara lain.

    "Masih perlu upaya-upaya yang lebih keras untuk mengejar indikator kinerja kesehatan utama  Indonesia yang masih tertinggal dari beberapa negara lain," ujar Ma'ruf, dalam acara Rapat Kerja Nasional atau Rakernas II Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jumat, 18 Desember 2020.

    Ma'ruf menyebut laporan World Health Statistics 2020 yang diterbitkan oleh WHO, angka kematian ibu melahirkan masih 177 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup di Malaysia yaitu 29, di Thailand 37, dan di Vietnam 43. Begitu juga dengan tingkat kematian balita yang masih 25 per 1.000 kelahiran hidup, dibandingkan dengan Malaysia yaitu 8, Thailand 9, dan Vietnam 21.

    Ma'ruf mengatakan Indonesia menempati tingkat teratas dibandingkan negara tetangga dalam hal prevalensi penyakit seperti TBC dan Malaria. Begitu pula prevalensi balita stunting yang masih tinggi.

    "Saya menyadari bahwa pencapaian indikator kinerja kesehatan di atas tidak semata-mata tugas dari para dokter dan tenaga kesehatan karena sifatnya yang multi dimensi. Sehingga memerlukan upaya dari seluruh pelaku pembangunan untuk mewujudkan capaian kesehatan yang diinginkan," ujar Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini.

    Namun setidaknya, kata Ma'ruf, IDI memiliki kewajiban untuk mendorong pemenuhan kebutuhan dokter di seluruh wilayah Indonesia.

    Dalam rangka meningkatkan kinerja kesehatan Indonesia, Ma'ruf meminta IDI memikirkan cara agar pemerintah dapat memperbaiki distribusi dokter umum di tingkat fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas).

    IDI juga diharapkan dapat ikut membantu dalam memperbaiki distribusi dokter spesialis di rumah sakit, terutama untuk rumah sakit di luar Pulau Jawa.

    "Saya juga mengharapkan agar IDI dapat memberi masukan kepada pemerintah agar para dokter dapat terus meningkatkan pelayanan yang berkualitas mengacu pada evidence-based medicine," ujar kiai sepuh ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.