Tekan Stunting, Ma'ruf Amin Ajak Ibu Berikan ASI Eksklusif

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Ma'ruf Amin menjadi khotib salat Jumat di Masjid Istana Wapres, Jakarta, 12 Juni 2020. KIP Setwapres

    Wakil Presiden Ma'ruf Amin menjadi khotib salat Jumat di Masjid Istana Wapres, Jakarta, 12 Juni 2020. KIP Setwapres

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Republik Indonesia Ma'ruf Amin mengatakan pemberian air susu ibu (ASI) pada 1.000 hari pertama kehidupan anak akan mengurangi tingkat prevalansi kekerdilan atau stunting anak-anak Indonesia. Ia menyatakan pemberian ASI menjadi prioritas dan cara terbaik mencegah stunting.

    “Kita harus terus mendorong pemberian ASI untuk mengurangi tingkat stunting anak Indonesia’ ujar Ma’ruf Amin saat membuka webinar Pekan Menyusui Sedunia di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2020.

    Ma'ruf Amin mengatakan jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI Eksklusif masih di bawah 50 persen. Itu artinya masih banyak bayi yang tidak mendapatkan haknya.

    Wapres menghimbau agar semua pihak berperan aktif untuk mendorong para ibu memberikan hak ASI Eksklusif pada bayi sehingga dapat menekan angka stunting. Adapun target penurunan angka stunting di Indonesia adalah sebesar 14 persen pada 2024. “Dukungan dari suami, keluarga, dan lingkungan tempat ibu bekerja mempunyai peranan penting keberhasilan seorang ibu dalam menyusui anaknya” ujar Ma'ruf Amin.

    Selain itu, dukungan lain yang diperlukan oleh ibu adalah konselor laktasi yang terampil yang bisa disediakan oleh tenaga kesehatan. Konselor laktasi diharapkan bisa memberikan edukasi kepada ibu dan keluarga mengenai pentingnya menyusui.

    Konseling menyusui juga bisa membantu ibu untuk membangun kepercayaan diri dan mencegah praktik pemberian makan pada bayi sebelum waktunya.

    Baca juga: Menristek: Jangan Sampai Stunting Jadi Bencana Baru

    ALEXANDRA HELENA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hati-hati, Ada 5 Tempat Rawan Penularan Virus Corona di Kantor

    Penelitian mengumpulkan daftar lima titik risiko penyebaran Covid-19 di kantor. Sejumlah titik penularan virus corona sering kita abaikan.