Selasa, 22 September 2020

Menko PMK Prihatin Angka Fatalitas Tenaga Medis Covid-19 di Jatim

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko PMK Muhadjir Effendy dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto berbincang saat mengikuti rapat kerja gabungan dengan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020. Rapat kerja gabungan Komisi II, VIII, IX, dan XI DPR RI dengan Pemerintah tersebut membahas pembiayaan selisih biaya kenaikan iuran BPJS Kesehatan bagi peserta bukan penerima upah (PBPU) dan bukan pekerja (BP) Kelas III, serta membahas permasalahan data peserta penerima bantuan Iuran (PBI), membahas peran serta pemerintah daerah dalam program JKN. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menko PMK Muhadjir Effendy dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto berbincang saat mengikuti rapat kerja gabungan dengan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020. Rapat kerja gabungan Komisi II, VIII, IX, dan XI DPR RI dengan Pemerintah tersebut membahas pembiayaan selisih biaya kenaikan iuran BPJS Kesehatan bagi peserta bukan penerima upah (PBPU) dan bukan pekerja (BP) Kelas III, serta membahas permasalahan data peserta penerima bantuan Iuran (PBI), membahas peran serta pemerintah daerah dalam program JKN. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengungkapkan rasa prihatin karena angka fatalitas (kematian) tenaga medis di Jawa Timur akibat Covid-19 tertinggi se-Indonesia.

    Dalam pertemuan dengan anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur, di Surabaya, Muhadjir menekankan tiga hal yang perlu mendapat prioritas utama untuk dilindungi dalam penanganan Covid-19. "Pertama yang harus dilindungi adalah tenaga kesehatan. Kedua adalah pasien yang memiliki komorbit atau penyakit bawaan kronis, serta ketiga adalah pasien berusia tua yang terbilang cukup rentan," ujarnya.

    Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, terhitung sampai hari ini sebanyak 295 tenaga medis terpapar Covid-19 yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan petugas laboratorium. Sebanyak 23 orang di antaranya meninggal, sedangkan 84 orang masih dalam perawatan, serta 188 orang telah dinyatakan sembuh.

    Khusus untuk dokter di Jawa Timur yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 sebanyak 78 orang. Lalu 11 orang di antaranya meninggal serta 47 orang telah dinyatakan sembuh. "Pertemuan dengan IDI Jawa Timur hari ini adalah untuk mendata jumlah alat pelindung diri atau APD yang perlu kami bantu agar cepat sampai ke tujuan," ujar Muhadjir Effendy.

    Percepatan penanganan Covid-19 di Jawa Timur, lanjut dia, pemerintah juga akan menggelontorkan bantuan berupa alat PCR atau polymerase chain reaction maupun reagen pada 99 rumah sakit rujukan yang tersebar di berbagai kabupaten/kota.

    "Harus ada perubahan terkait angka kasus Covid-19 di Jatim. Kami akui hasilnya masih belum menggembirakan. Sudah kami lakukan evaluasi. Semua harus bekerja keras untuk memenuhi target seperti yang dicanangkan Presiden Jokowi saat beliau berkunjung ke Jatim," kata Muhadjir.

    Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur per Kamis malam, 16 Juli 2020, tambahan kasus terkonfirmasi positif sebanyak 222 orang, sehingga secara keseluruhan mencapai 17.549 orang. Pasien sembuh atau negatif bertambah 387 orang, sehingga totalnya sebanyak 8.310 sudah dinyatakan pulih. Lalu kasus meninggal mencapai 1.352 orang setelah bertambah 37 orang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.