Lebaran di Penjara Porong, Permintaan Video Call Naik Tajam

Reporter:
Editor:

Setri Yasra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penjara. Sumber: aa.com.tr

    Ilustrasi penjara. Sumber: aa.com.tr

    TEMPO.CO, Jakarta--Larangan berkunjung saat lebaran, membuat para penghuni lembaga pemasyarakatan (LP) Surabaya, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur menggunakan panggilan video (video call) berkomunikasi dengan sanak saudara. Dampaknya, penggunaan fasilitas video call melonjak tajam.

    Menurut Kepala LP Surabaya Tonny Nainggolan permintaan akses melakukan video call saat lebaran naik menjadi 100 orang dari biasanya hanya 40 orang per hari. Menurut dia, layanan video call yang diberikan ini sebagai upaya menghindari kontak langsung antara warga binaan pemasyarakatan dengan keluarganya. 

    "Selain itu, layanan ini juga sebagai upaya kami dalam memutus rantai pandemi virus corona atau Covid-19," katanya dalam keterangan tertulis, Senin, 25 Mei 2020.

    Dia mengemukakan pengelola LP Surabaya sudah mengantisipasi adanya lonjakan jumlah pemohon layanan video call ini. "Kami sudah antisipasi, di setiap blok juga kami sediakan device, sehingga warga binaan tidak harus ke ruang depan," kata Tonny.

    Kepala Kanwil Hukum dan HAM Jawa Timur, Krismono mengatakan sesuai protokol Covid-19, lebaran tahun ini tidak ada kunjungan kepada penghuni LP. Solusinya  dengan mengoptimalkan layanan video call sebagai ganti berkomunikasi dengan sanak saudara. "Selain di ruang registrasi, pihak LP juga menyediakan video call di blok hunian supaya antrian bisa diurai," katanya.

    Salah seorang penghuni LP Surabaya berinisial RK senang dengan layanan itu karena bisa mengobati rasa kangen bersama dengan keluarganya. "Alhamdulillah, meski tidak bisa bertemu, sedikit terobati dengan layanan video call ini. Gratis Pak, saya tidak bayar sepeser pun," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.