Kuasa Hukum ABK WNI Ceritakan Nasib 3 Kru Sebelum Meninggal

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi anak buah kapal (ABK) Long Xing 629 tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat 8 Mei 2020. Sebanyak 14 WNI ABK yang diduga mengalami eksploitasi di kapal berbendera China tersebut tiba di Indonesia dan akan menjalani karantina kesehatan di asrama milik Kementerian Sosial. ANTARA FOTO/Hasnugara

    Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi anak buah kapal (ABK) Long Xing 629 tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat 8 Mei 2020. Sebanyak 14 WNI ABK yang diduga mengalami eksploitasi di kapal berbendera China tersebut tiba di Indonesia dan akan menjalani karantina kesehatan di asrama milik Kementerian Sosial. ANTARA FOTO/Hasnugara

    TEMPO.CO, Jakarta -  Firma DNT Lawyers, kuasa hukum para anak buah kapal (ABK) Indonesia yang diduga mengalami perbudakan di Kapal Long Xing 629, menceritakan awal mula meninggalnya tiga kru bernama Sepri, M. Muh Alfatah, dan Ari.

    Salah satu tim DNT Lawyers, Pahrur Dalimunthe, menuturkan, pada Desember 2019, Sepri dan Alfatah, mengalami bengkak di sekujur tubuhnya. "Mereka juga mengalami sakit di bagian dada, serta sesak nafas, selama 45 hari sebelum meninggal," ujar dia melalui keterangan tertulis pada Ahad, 10 Mei 2020.

    Kemudian, pada Maret 2020, Ari mengalami sakit yang sama selama 17 hari sebelum akhirnya meninggal pada akhir bulan.

    Menurut Pahrur, selama ketiga ABK itu sakit, kapten kapal hanya memberikan obat yang tak dipahami lantaran tertulis dalam bahasa Cina.

    "Bahkan sudah kadarluarsa. Kapten juga menolak permintaan para ABK lainnya untuk membawa rekannya yang sakit ke rumah sakit," kata dia.

    Pada masa kritis itu, Alfatah dipindahkan ke Kapal Long Xing 802 dan Sepri ke Kapal Long Xing 629. "Mereka meninggal di kedua kapal itu," ucap Pahrur.

    Rekan sesama ABK kemudian meminta jenazah ketiga ABK itu agar disimpan ke tempat pendingin. Tujuannya supaya bisa dibawa pulang dan dimakamkan di Indonesia. Namun, kata Pahrur, kapten kapal menolak dan melarung jenazah ke tengah laut.

    Terkuaknya insiden ini kemudian membuat Pemerintah Indonesia bergerak untuk mengusut. Kepolisian RI pun telah menyatakan membuka penyelidikan terhadap dugaan perbudakan dan eksploitasi di kapal berbendera Cina ini.

    Satuan Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) telah memeriksa 14 ABK Indonesia yang telah dibawa pulang ke Indonesia. Dari hasil pemeriksaan awal, kepolisian pun menemukan indikasi terjadinya perbudakan dan eksploitasi terhadap seluruh ABK Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.