PKBSI: 92 Persen Kebun Binatang Bertahan Kurang dari 1 Bulan

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Kebun Binatang Surabaya menyemprotkan desinfektan di sekitar kandang satwa setelah diputuskan menutup area wisata itu 17-29 Maret 2020. Penutupan untuk mencegah mewabahnya virus corona. (Kukuh SW)

    Petugas Kebun Binatang Surabaya menyemprotkan desinfektan di sekitar kandang satwa setelah diputuskan menutup area wisata itu 17-29 Maret 2020. Penutupan untuk mencegah mewabahnya virus corona. (Kukuh SW)

    TEMPO.CO, Jakarta -Perhimpunan  Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) menyatakan sebanyak 92,11 persen anggotanya hanya bisa bertahan kurang dari satu bulan untuk pemberian pakan sebagai imbas dari pandemi Covid-19. Sebanyak 5,26 persen sisanya mampu menyediakan pakan untuk satu hingga tiga bulan. Sedangkan hanya, 2,63 persen kebun binatang saja yang mampu menyediakan pakan untuk lebih dari tiga bulan.

    Data ini diperoleh dari survei internal terhadap 60 anggota PKBSI. "Artinya, 90 persen anggota PKBSI hanya bisa bertahan dalam satu bulan," kata Sulhan Syafi'i, Humas dan Promosi PKBSI dalam keterangan tertulis, Jumat, 24 April 2020.

    Sulhan mengatakan penguatan ketahanan pakan adalah salah satu prioritas mendesak bagi kelangsungan hidup kebun binatang, khususnya bagi kesehatan dan kesejahteraan satwa koleksi. Dengan situasi krisis akibat pandemi ini, kata dia, hampir seluruh manajemen kebun binatang melakukan penyesuaian pakan untuk satwa.

    Mulai dari substitusi, pengurangan porsi, hingga pendekatan manajemen pakan lainnya. "Tentu tetap berdasarkan pada etika hewan maupun kesehatan dan kesejahteraan satwa," kata dia.

    Menurut Sulhan, kemampuan pakan tak selalu terkait dengan persoalan finansial. Ada jenis satwa tertentu yang membutuhkan jenis pakan khusus yang hanya bisa diperoleh dari penyuplai khusus dengan perlakuan tertentu. "Artinya walau secara finansial tersedia, kalau pasokan pakannya justru tidak tersedia karena dampak kebijakan Covid-19, menjelma menjadi ancaman," ujar Sulhan.

    Finansial, kata Sulhan, bagaimana pun memang menjadi faktor krusial bagi kelangsungan ketersediaan suplai pakan. Biaya pakan menduduki peringkat dua setelah tenaga kerja dalam komponen ongkos operasional kebun binatang, disusul biaya obat-obatan.

    Ada 4.912 jenis satwa endemik maupun satwa dari berbagai belahan dunia yang menjadi koleksi seluruh kebun binatang anggota PKBSI. Beberapa di antaranya tergolong flagship species yang menjadi ikon Indonesia, seperti anoa, harimau Sumatera, tapir, orang utan Sumatera, dan lainnya.

    Adapun jumlah total populasi satwa di seluruh kebun binatang kurang lebih mencapai 70 ribu ekor. Secara legalitas, ucap Sulhan, seluruh satwa itu adalah aset negara yang bukan cuma wajib dilestarikan, tetapi juga dijaga kesejahteraannya.
    "Ironisnya, hari ini semua kebun binatang dalam kondisi mati suri. Kebun binatang anggota PKBSI di seluruh Indonesia sudah tutup sejak pertengahan Maret," kata Sulhan.

    Dia mengimbuhkan, kebun-kebun binatang tersebut selama ini memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Tenaga kerja yang diserap untuk lebih dari 60 kebun binatang anggota PKBSI mencapai 22 ribu orang. Adapun jumlah pengunjung bisa mencapai 50 juta orang dalam satu tahun.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.