Jaksa Buka Chat Hasto Kristiyanto dengan Penyuap Wahyu Setiawan

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto bersiap meninggalkan gedung KPK, Jakarta, Rabu, 26 Februari 2020. Kasus tersebut turut menyeret Hasto. KPK sempat akan menyegel ruangannya pada 9 Januari 2020 atau sehari setelah operasi tangkap tangan. Namun, KPK gagal menyegel ruangan itu. TEMPO/Imam Sukamto

    Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto bersiap meninggalkan gedung KPK, Jakarta, Rabu, 26 Februari 2020. Kasus tersebut turut menyeret Hasto. KPK sempat akan menyegel ruangannya pada 9 Januari 2020 atau sehari setelah operasi tangkap tangan. Namun, KPK gagal menyegel ruangan itu. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap percakapan WhatsApp antara Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dengan terdakwa penyuap Komisioner Komisi Pemilihan Umum Wahyu Setiawan, Saeful Bahri. Percakapan itu dilakukan pada hari Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan operasi tangkap tangan pada 8 Januari 2020.

    Isi percakapan yang dibuka dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 16 April 2020. Hasto memberikan kesaksian melalui konferensi video. Jaksa KPK Takdir Suhan menyebut dalam komunikasi itu Saeful berkata kepada Hasto bahwa dia sedang menuju DPP PDIP. Ada yang ingin dijelaskan olehnya secara lisan kepada Hasto. "Saya otw ke DPP mas, saya jelaskan lisan," kata jaksa membacakan berita acara pemeriksaan.

    Jaksa melanjutkan, Saeful juga berkata sempat melakukan pertemuan dengan Wahyu dan Ketua KPU Arief Budiman pada malam harinya. "Semalam kami masih meeting dengan Wahyu, ada Mas Arief juga, intinya Wahyu masih dalam lobi itu, surat sudah terbit, tapi masih on going process. Karena kita, dia belum sempat ngedrop ke semua komisioner," kata jaksa membacakan BAP.

    Hasto awalnya membantah ada chat tersebut. Namun, akhirnya dia mengakui setelah jaksa membacakan BAP. "Saya tidak memberi atensi apa-apa karena OTT yang terjadi kepada saudara terdakwa (Saeful), sehingga saya juga tidak memahami apa yang dimaksudkan dari pesan tersebut," kata Hasto.

    Dalam perkara ini, KPK mendakwa Saeful dan kader PDIP Harun Masiku menyuap Wahyu Setiawan Rp 600 juta. Jumlah itu baru sebagian dari permintaan Wahyu sebesar Rp 1 miliar. Dalam surat dakwaan jaksa, uang Rp 1 miliar itu disebut sebagai biaya operasional yang diperlukan agar KPU dapat menyetujui permohonan penggantian caleg DPR kepada Harun Masiku.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.