PSI Ingin Kubu Jokowi Munculkan Tokoh Nasional untuk Lawan Anies

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam acara puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, pada Jumat, 21 Februari 2020. Tempo/Adam Prireza

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam acara puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, pada Jumat, 21 Februari 2020. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni, mengatakan harus ada gerakan dari kubu Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang mendorong tokoh-tokoh nasional maju dalam Pilpres 2024 untuk membendung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

    Menurut survei versi Indo Barometer, selain Prabowo Subianto, Anies adalah salah satu calon presiden terkuat untuk Pilpres 2024.

    Tokoh-tokoh nasionalis, kata Raja Juli, perlu didorong muncul. "Misalnya, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Ibu Risma, Pak Nurdin Abdullah dan tokoh-tokoh lain yang bisa menjadi pengganti Pak Jokowi," ujar dia di Hotel Atlet Century, Senayan pada Ahad, 23 Februari 2020.

    Raja Juli mengatakan kubu Presiden Jokowi harus bisa mendorong tokoh-tokoh tersebut maju sehingg bisa mengecilkan keberadaan Anies.

    Antoni mengatakan PSI ingin menghadang Anies karena tidak ingin sosok yang membawa isu primordial dan retorika keagamaan yang bisa membelah masyarakat, menjadi pemimpin Indonesia di masa yang akan datang.

    "Anies kini menjadi simbol populisme. Saya ingin mengajak kepada teman-teman partai maupun masyarakat yang masih pro terhadap nasionalisme, saya kira harus ada barisan nasional yang secara serius menghadang figur yang terfokus pada isu populisme ini," ujar Raja Juli.

    Menurut Antoni, retorika sah-sah saja, tapi tanpa kinerja, semuanya menjadi nihil. "Apakah kata-kata dapat membebaskan Jakarta dari banjir? Pak Anies sebagai seorang Gubernur yang inkompeten, hanya menggunakan retorika tapi tanpa kerja," ujar Antoni.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.