Gerakan Raja Keraton Agung Sejagad Pernah Diawasi Polda DIY

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Publik tengah dihebohkan dengan kemunculan sekelompok orang yang berdandan ala kerajaan keraton di Purworejo, Jawa Tengah yang dinamakan Keraton Agung Sejagad. Kemunculan Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya yang digelar pada 10 hingga 12 Januari 2020. ANTARA/dok. pribadi

    Publik tengah dihebohkan dengan kemunculan sekelompok orang yang berdandan ala kerajaan keraton di Purworejo, Jawa Tengah yang dinamakan Keraton Agung Sejagad. Kemunculan Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya yang digelar pada 10 hingga 12 Januari 2020. ANTARA/dok. pribadi

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pimpinan "raja" Keraton Agung Sejagad, Totok Santoso Hadiningrat punya perkumpulan di Yogyakarta yang beberapa kali berubah bentuk. Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian DI Yogyakarta Komisaris Besar Burkan Rudi Satria yang menjadi Kapolres Sleman pada 2016 hingga 2017 saat itu memantau gerakan yang dimotori Totok.

    Totok yang biasa dipanggil “Sinuhun” oleh pengikut Keraton Agung Sejagad  pernah mendirikan Jogja Dec. Totok juga pernah pula membuat perkumpulan dengan bendera berlogo seperti lambang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    Saat itu organisasi itu hendak menggelar kegiatan di sebuah gedung pertemuan terkenal di Jalan Magelang Sleman Yogya, Grha Sarina Vidi. “Tapi waktu itu (acara Totok di Grha Sarina Vidi) kami gagalkan,” ujarnya.

    Meski begitu, selama memantau gerakan Totok di Yogya, polisi belum pernah mendapati laporan penipuan dari warga yang merasa dirugikan atau ditipu Totok bersama organisasinya. Polisi, kata Burkan, memantau gerakan perkumpulan Totok karena berindikasi penipuan dan berpotensi meresahkan masyarakat dan akibat aktivitasnya.

    Organisasi Jogja Dec Totok saat itu memungut uang pendaftaran dan iuran dari warga yang ingin menjadi anggota dengan biaya sekitar Rp 50 ribu. Jika sudah menjadi anggota maka bisa mendapat imbalan berupa gaji sebesar US$ 100-200 per bulan yang akan diambilkan dari simpanannya di Esa Monetary Fund (EMF) di sebuah bank di Swiss. “Kepada anggotanya, uang yang akan diberikan (sebagai gaji untuk anggota) merupakan harta peninggalan Presiden Soekarno di luar negeri,” ujar Burkan.

    Janji imbalan dari Totok yang saat itu mengaku sebagai Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia Wilayah Nusantara Jogja DEC itu tak pernah terwujud hingga satu per satu anggota organisasi itu mundur.

    Nama Jogja Dec tenggelam dengan sendirinya dan tak terdengar lagi kabarnya, sampai muncul lagi Keraton Agung Sejagat dengan Totok sebagai rajanya. “Aktivitas Jogja Dec pindah-pindah. Pernah di Sayegan, di Ngaglik (Kabupaten Sleman),” ujar Burkan. Di Sayegan Kabupaten Sleman, misalnya, aktivitas organisasi Jogja Dec pernah dibubarkan polisi karena aduan masyarakat.

    Totok dan istrinya, Fanni Aminadia alias Kanjeng Ratu Dyah Gitarja, permaisurinya ditangkap Kepolisian Resor Purworejo di Keraton Agung Sejagad di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Purworejo Selasa malam, 14 Januari 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.