Balas Kader PPP, Lieus: Ornamen Cina Tidak Mengubah Keindonesiaan

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan lampion dipasang dan menyala di kawasan Pasar Gede Solo untuk merayakan Imlek. TEMPO | Ahmad Rafiq

    Ribuan lampion dipasang dan menyala di kawasan Pasar Gede Solo untuk merayakan Imlek. TEMPO | Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak) Lieus Sungkharisma menanggapi kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Bangka Belitung Amri Cahyadi yang mempersoalkan ornamen atau hiasan khas Cina.

    Lieus Sungkharisma berpendapat berbeda. Menurut dia, ornamen tersebut takkan berpengaruh apapun terhadap budaya Keindonesiaan.

    "Mana mungkin sih bisa dicaplok budaya kita (Indonesia), enggak usah khawatir. Itu berlebihan menurut saya," kata Lieus saat dihubungi Tempo hari ini, Rabu 15 Januari 2020.

    Dia bahkan berpendapat, permintaan Amri Cahyadi justru berpotensi menggoyahkan rasa persatuan yang sudah dibangun sejak era reformasi. 

    Lieus Sungkharisma menerangkan, dulu orang Tionghoa merasa didiskriminasi di Indonesia. Mereka dilarang menyelenggarakan kegiatan di tempat umum sehingga acara kebudayaan seperti barongsai dilarang.

    Maka dia menilai permintaan pencopotan ornamen Cina di Bangka Belitung justru akan membawa Indonesia mundur lagi.

    "Ini sudah bagus. Jangan sama ornamen aja kita takut. Saya termasuk yang kaget, kok pikirannya (Amri Cahyadi) mundur."

    Meski begitu, Lieus Sungkharisma menggarisbawahi bahwa dia tak menganggap Amri anti Tionghoa. Tapi dia menilai kader PPP itu takut terhadap sesuatu yang salah.

    Indonesia, dia melanjutkan, bisa menerima semua budaya. Indonesia tak anti budaya lain namun tetap dibentengi dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

    Amri yang juga Wakil Ketua DPRD Bangka Belitung menyatakan kekhawatiran terjadi pencaplokan budaya menggunakan ornamen Cina sehingga budaya asli Bangka Belitung tenggelam.

    "Jangan sampai kondisi ini membuat kita abai. Penjajahan modern bukan hanya fisik wilayah. Tapi juga pencaplokan budaya," ujar Amri saat dihubungi Tempo, Ahad malam, 12 Januari 2020.

    Amri mempersoalkan kemunculan ornamen dan simbol budaya Cina beberapa tahun ini di lokasi wisata di Bangka Belitung. Tapi dia tak mempersoalkan hiasan khas Cina di tempat ibadah dan rumah pribadi,

    Dia kurang sreg jika ornamen Cina ramai dipasang di lokasi wisata dan area publik, seperti gapura, pintu gerbang, atau patung. 

    Amri mencontohkan di Sungailiat yang bertengger patung perang Terakota.

    Dia lantas mengusulkan regulasi untuk mengontrol penempatan ornamen budaya asing pada aset atau objek wisata. Tujuannya, supaya budaya lokal tidak tergerus budaya luar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?