Soal Ornamen Cina Dibongkar, Wasekjen PPP: Jangan Ditarik ke SARA

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berfoto di Taman Ditan yang dihiasi ornamen bernuansa merah, kuning, dan emas saat perayaan Tahun Baru Imlek 2570 di Beijing, Cina, Selasa, 5 Februari 2019. REUTERS

    Warga berfoto di Taman Ditan yang dihiasi ornamen bernuansa merah, kuning, dan emas saat perayaan Tahun Baru Imlek 2570 di Beijing, Cina, Selasa, 5 Februari 2019. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Achmad Baidowi meminta pernyataan kadernya, Amri Cahyadi, soal membongkar ornamen dan simbol Cina, tidak diseret-seret ke arah rasial.

    "Penjelasan Amri itu terkait dengan perlindungan budaya dan keindahan tempat-tempat wisata. Sehingga, tidak perlu ditarik-tarik ke wilayah sara apalagi dianggap sebagai anti-Cina," ujar Baidowi saat dihubungi Tempo pada Senin, 13 Januari 2020.

    Pernyataan Amri yang meminta ornamen dan simbol Cina dibongkar menyulut perdebatan. Meski statemennya viral, Amri membantah disebut anti-Cina.

    "Saya pribadi dan partai bukan anti Cina. Dalam konteks negara, suku Tionghoa yang sudah menjadi WNI adalah saudara, dan itu final. Terkait pernyataan itu, saya melihat sudah dipolitisasi dan keluar dari substansi yang saya maksud," ujar Amri saat dihubungi Tempo, Ahad, 12 Januari 2020.

    Menurut Amri, pernyataan yang disampaikannya itu bukan dalam konteks kesukuan atau toleransi. Namun, kata dia, hal itu terkait banyaknya kemunculan ornamen dan simbol budaya Cina beberapa tahun ini di lokasi wisata yang ada di Bangka Belitung.

    "Kalau tempat ibadah atau rumah pribadi tidak ada masalah. Namun, ini di lokasi wisata dan area publik, seperti gapura, pintu gerbang atau patung. Contohnya di Sungailiat. Silakan datang sendiri ada patung perang terakota dan yang lainnya," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?