Istana: Daripada Salah-salahan Lebih Baik Bantu Korban Banjir

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga menggendong anaknya melewati banjir di kawasan Kampung Baru, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis, 2 Januari 2020. Saat foto ini diambil, banyak warga dan anak-anak yang terjebak di dalam rumahnya. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Seorang warga menggendong anaknya melewati banjir di kawasan Kampung Baru, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis, 2 Januari 2020. Saat foto ini diambil, banyak warga dan anak-anak yang terjebak di dalam rumahnya. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Presiden Bidang Sosial Angkie Yudistia meminta semua pihak tidak saling menyalahkan terkait banjir besar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Ketimbang sibuk menyalahkan orang lain, ia mengajak warga untuk membantu korban.

    "Daripada salah-salahan, lebih baik kita introspeksi dan bergotong-royong untuk membantu korban banjir," kata Angkie dalam keterangan tertulis, Sabtu, 4 Januari 2019.

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi, kata Angkie, telah menginstruksikan para pimpinan lembaga negara untuk membantu korban. "Sesuai kapasitas dan semaksimal mungkin," tuturnya.

    Pendiri Thisable Enterprise ini meminta masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan dan mewaspadai penyakit pascabanjir. “Yang paling penting kita harus tetap waspada jangan sampai terkena penyakit," ucap dia.

    Banjir besar di wilayah Jabodetabek terjadi pada 1 Januari 2020. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per Jumat, 3 Januari 2020 pukul 23.00, jumlah pengungsi naik menjadi 173.064 orang (39.627 Kepala Keluarga).

    Jumlah titik pengungsian juga bertambah karena sudah terverifikasi oleh petugas BPBD. "Sementara jumlah korban meninggal dan hilang tetap 47 orang," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Agus Wibowo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.