Tewaskan 35 orang, Ini Fakta di Sekitar Kecelakaan Bus Sriwijaya

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas gabungan dari SAR Pagaralam, TNI, Polri, BPBD dan Tagana melakukan evakuasi korban kecelakaan Bus Sriwijaya dengan rute Bengkulu - Palembang yang masuk jurang di Liku Lematang, Prahu Dipo, Dempo Selatan, Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa, 24 Desember 2019. ANTARA/Handout/Dok Basarnas Palembang

    Petugas gabungan dari SAR Pagaralam, TNI, Polri, BPBD dan Tagana melakukan evakuasi korban kecelakaan Bus Sriwijaya dengan rute Bengkulu - Palembang yang masuk jurang di Liku Lematang, Prahu Dipo, Dempo Selatan, Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa, 24 Desember 2019. ANTARA/Handout/Dok Basarnas Palembang

    TEMPO.CO, Palembang - Hingga kemarin, Rabu, 25 Desember 2019 sebanyak 35 orang tewas dan 13 orang korban selamat akibat kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Pagaralam, Senin, 23 Desember 2019 pukul 23.15 WIB. Kepala Koordinator Lalu Lintas Polri Irjen Istiono yang datang ke lokasi kejadian, memastikan penyelidikan penyebab kecelakaan akan berlangsung hingga besok.

    ”Akan dianalisis secara lengkap, saat ini masih pengumpulan data," kata Irjen Istiono, Rabu, 25 Desember 2019. Polri "Kami masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut," kata Istiono.

    Berikut adalah fakta-fakta di sekitar kecelakaan itu:

    1. SIM pengemudi yang turut menjadi korban bus itu sudah tidak berlaku sejak 2010.

    2. Perusahaan bus sudah cukup lama beroperasi

    3. Bus sudah dipakai lebih dari 20 tahun.

    4. Karakteristik jalan tergolong berbahaya karena jalannya menanjak cukup tajam.
    Menurut Istiono, pengemudi harus berkonsentrasi dan kendaraan juga harus prima. "Trek ini menurut saya terlalu tajam, perlu adanya papan pengumuman.” Selain itu, perlu adanya penerangan jalan dan rambu peringatan agar kejadian kecelakaan ini tidak terulang lagi.

    5. Bus Sriwijaya diduga tidak dapat menaiki tanjakan tajam sehingga mundur menabrak beton pembatas jalan, kemudian terjun ke jurang sedalam 8 meter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.