Anak Korban Bus Sriwijaya Menikah di Depan Jenazah Ayahnya

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas gabungan dari SAR Pagaralam, TNI, Polri, BPBD dan Tagana melakukan evakuasi korban kecelakaan Bus Sriwijaya dengan rute Bengkulu - Palembang yang masuk jurang di Liku Lematang, Prahu Dipo, Dempo Selatan, Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa, 24 Desember 2019. ANTARA/Kiki

    Petugas gabungan dari SAR Pagaralam, TNI, Polri, BPBD dan Tagana melakukan evakuasi korban kecelakaan Bus Sriwijaya dengan rute Bengkulu - Palembang yang masuk jurang di Liku Lematang, Prahu Dipo, Dempo Selatan, Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa, 24 Desember 2019. ANTARA/Kiki

    TEMPO.CO, Jakarta - Dwi Fitria Rahmadi, anak perempuan dari salah satu korban kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Liku Lematang Kota Pagaralam, memutuskan menikah di depan jenazah ayahnya Warsono, 62 tahun.

    Pernikahan Dwi dengan seorang lelaki bernama Rahmad Kasmantri berlangsung Rabu pagi, 25 Desember 2019 di Dusun 1 Perajen RT 1, Kelurahan Mariana, Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.

    "Awalnya akad nikah direncanakan pada 29 Desember 2019, namun karena kondisinya berkabung jadi kedua keluarga sepakat memajukan waktu akad hari ini," kata besan alamarhum Warsono, Kasim seusai prosesi akad nikah.

    Dwi tampak tak bisa menyembunyikan air matanya saat prosesi akad karena jenazah Warsono berada di hadapannya. Begitu pun kesedihan anggota keluarga yang lain.

    Meski demikian Dwi mencoba tabah dan ikhlas melepas kepergian ayahnya. Proses akad berjalan lancar dan warga langsung memakamkan jenazah Warsono di TPU Desa Perajen usai akad.

    Selain Warsono, diketahui ada empat warga Desa Perajen lainnya yang menjadi korban kecelakaan maut Bus Sriwijaya pada Senin malam, yakni Ulul Azmi (15), Selvi (16), M. Ikbal (13) dan Amelia Sapira (13).

    Kepala Desa Perajen, Anhar, mengatakan keempat korban lainnya tersebut merupakan warganya yang bersekolah di salah satu pesantren di Bengkulu. Warsono dan keempatnya juga masih terikat kekerabatan.

    "Dia (Warsono) itu ke Bengkulu ingin jemput cucunya (Akbar) dan yang lain karena tantenya (Dwi) akan menikah, tapi apadaya takdir berkata lain," kata Anhar.

    Kelima jenazah dikebumikan secara kolektif di lokasi yang sama atas kesepakatan keluarga.

    Anhar tidak menyangka Warsono dan kelima warganya menjadi korban kecelakaan Bus Sriwijaya. Warsono sendiri dikenal ramah, murah senyum dan baik selama hidupnya.

    Sebagai ungkapan duka cita, Wakil Bupati Banyuasin, Slamet, datang langsung menjadi saksi pernikahan Dwi dan Rahmad. Ia juga menyampaikan duka cita dari Bupati Banyuasin, Askolani kepada keluarga korban.

    Sebelumnya Bus Sriwijaya Jenis Mitsubishi Fuso Plat No Polisi BD 7031 AU rute Bengkulu - Palembang terjun ke jurang di Liku Lematang Jalan Lintas Pagaralam - Lahat KM 9, Desa Plang Kenidai, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam pada Senin malam pukul 23.15 WIB.

    Bus tak mampu menanjak sehingga mundur dengan kecepatan tinggi lalu menabrak beton pembantas dan terjun dari ketinggian 80 meter. Liku Lematang memang dikenal cukup rawan karena kerap terjadi kecelakaan terutama saat jalur licin.

    Data tim SAR terbaru hingga Rabu pukul 16.00 WIB, korban meninggal tercatat 34 orang, terdiri dari 16 laki-laki dan 12 perempuan. Adapun korban selamat sebanyak 13 orang, sehingga total yang telah dievakuasi sebanyak 47 korban.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?