JK Terima Penghargaan Pengabdian Sepanjang Hayat Moeslim Choice

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden periode 2014-2019 Jusuf Kalla menerima Muslim Choice Award kategori pengabdian sepanjang hayat di Gedung Kesenian Jakarta, 12 Desember 2019. Tempo/Friski Riana

    Wakil Presiden periode 2014-2019 Jusuf Kalla menerima Muslim Choice Award kategori pengabdian sepanjang hayat di Gedung Kesenian Jakarta, 12 Desember 2019. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden periode 2004-2009 dan 2014-2019, Jusuf Kalla atau JK, dianugerahi penghargaan atas pengabdian sepanjang hayat di acara Moeslim Choice Award yang diinisiasi Majalah Moeslim Choice.

    JK dinilai berhasil mengembangkan bisnis keluarga dan berpolitik secara elegan dalam masa damai maupun gejolak. Dalam sambutannya, JK mengatakan bahwa ada dua kelemahan umat, yaitu media dan ekonomi.

    Media zaman sekarang, terutama cetak, tidak mudah hidup karena teknologi yang makin berkembang. Padahal, media memiliki peran yang besar dalam menjaga kerukunan.

    "Tanpa media maka pada zaman lalu, kita sering tersulut. Walaupun (umat) mayoritas, tapi sering tersulut karena kurangnya media yang besar," kata JK di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis, 12 Desember 2019.

    JK pun mengajak masyarakat untuk memiliki sikap sama-sama memperkuat satu sama lain. Ia mengaku bersyukur bahwa umat di Indonesia memiliki kesamaan sehingga tidak terjadi konflik seperti di negara-negara Timur Tengah, Afghanistan, dan Afrika. "Kita harus menjaga harmonitas kita," katanya.

    Di bidang ekonomi, JK mengatakan bahwa ada begitu banyak masjid di Indonesia, namun jumlah pengusaha yang berhasil dan kaya sangat minim. Menurut JK, surga bukan hanya diupayakan lewat ibadah, tapi bisa dengan kebaikan dunia dan akhirat. Ia pun berharap makin banyak pengusaha yang sukses agar bisa membawa kebaikan lewat infaq yang diberikan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.