Sekelompok Warga Medan Tolak Pemakaman Bomber Polrestabes Medan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Liang lahat kuburan bomber Polrestabes Medan, Rabbial Muslim Nasution. Foto : Sahat Simatupang/Tempo.

    Liang lahat kuburan bomber Polrestabes Medan, Rabbial Muslim Nasution. Foto : Sahat Simatupang/Tempo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekelompok warga Medan berunjuk rasa menolak pemakaman terduga pelaku bom bunuh diri Polrestabes Medan, Rabbial Muslim Nasution alias Dedek di Komplek Pekuburan Muslim Sei Sikambing persis di samping Mesjid Al Hasanah Jalan Gatot Subroto Medan, Senin siang, 18 November 2019.

    Seorang peserta aksi yang mengaku bernama Dedi mengatakan, dia dan sebagian besar warga Kota Medan menolak terorisme dan kekerasan atas nama agama. "Tindakan bom bunuh diri dan radikalisme atas nama agama harus kita tolak. Warga Kota Medan menolak pelaku bom bunuh diri atas nama agama dikebumikan di tanah bertuah Kota Medan," kata Dedi.

    Aksi penolakan tersebut tak berlangsung lama karena polisi meminta Dedi dan kawan-kawannya membubarkan diri. "Mohon agar membubarkan diri agar tidak menimbulkan kemacetan," kata salah satu petugas dari Kepolisian Sektor Medan Baru.

    Puluhan polisi berpakaian dinas dan pakaian sipil berjaga di sekitar komplek pemakaman, salah satunya Kepala Satuan Intelkam Polrestabes Medan Ajun Komisaris Besar Masama Sembiring.

    Kepala Lingkungan X, Kelurahan Sei Sikambing D, Kecamatan Medan Petisah Dermawan Ginting, membenarkan jenazah Rabbial Muslim Nasution akan dimakamkan di pekuburan muslim Sei Sikambing.

    "Informasinya seperti itu dan liang lahatnya juga sudah disiapkan. Saya tidak mengenali warga yang unjuk rasa menolak pemakaman ini. Itu bukan warga saya," ujar Dermawan. Hingga berita ini ditulis, jenazah pelaku bom bunuh diri itu belum juga dikebumikan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.