Indonesia-Korea Terus Perkuat Perlindungan Bagi PMI

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah saat menerima kunjungan Courtesy Call Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Kim Chang-beom, di Jakarta pada Kamis, 14 NOvember 2019.

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah saat menerima kunjungan Courtesy Call Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Kim Chang-beom, di Jakarta pada Kamis, 14 NOvember 2019.

    INFO NASIONAL — Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Korea terus berupaya untuk meningkatkan perlindungan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Korea. Salah satu upayanya adalah memperbarui (renewal) kerja sama (MoU) penempatan PMI ke Korea melalui skema Employment Permit System (EPS).

    Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, menjelaskan antara Indonesia dan Korea sepakat untuk dapat melaksanakan Joint Working Group (JWG) guna membahas sekaligus mengevaluasi implementasi penempatan PMI melalui skema EPS selama ini.

    Ida berharap, proses pembaruan MoU penempatan PMI melalui EPS ini dapat segera diselesaikan. "Semoga MoU tentang EPS ini dapat segera ditandatangani untuk menjamin perlindungan yang lebih baik bagi pekerja migran kita di Korea," katanya, usai menerima Courtesy Call Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Kim Chang-beom, di kantor Kemnaker, Jakarta, pada Kamis, 14 November 2019.

    Melalui skema sistem izin kerja EPS, PMI yang bekerja di Korea akan memperoleh perlakuan dan hak yang sama sebagaimana tenaga kerja Korea sesuai dengan Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan Republik Korea.

    "Jadi, EPS ini memiliki sistem yang mencakup mengenai penempatan dan perlindungan pekerja migran kita di Korea," ujar Ida menerangkan.

    Penempatan melalui skema EPS meliputi lima sektor, yaitu manufaktur, konstruksi, jasa, perikanan, dan pertanian. Hanya saja, hingga saat ini Indonesia baru menempatkan di sektor manufaktur dan perikanan.

    Perundingan pembaharuan dokumen MoU oleh Indonesia dan Korea sendiri telah berlangsung sejak tahun 2015. Lamanya proses negosiasi disebabkan adanya usulan revisi/tambahan klausul untuk dapat meningkatkan perlindungan PMI. Sementara, format MoU penempatan EPS ini sudah template untuk ke-16 negara pengirim, termasuk Indonesia.

    "Pada prinsipnya, Indonesia dapat menyetujui substansi teknis di dalam counter-draft MoU yang telah disampaikan oleh pihak Korea sebelumnya, tetapi masih terdapat beberapa poin substansi legal drafting yang perlu mendapatkan kesepakatan dari kedua belah pihak," ucap Ida.

    Plt. Dirjen Binapenta dan PKK, Aris Wahyudi, menambahkan Kemnaker memandang bahwa Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Korea memiliki keinginan yang sama untuk segera menyelesaikan proses pembaruan dokumen MoU EPS.

    Counter-draft MoU dari Pemerintah Indonesia telah disampaikan secara resmi kepada pihak Pemerintah Korea. Hingga saat ini, Pemerintah Korea belum menyampaikan tanggapannya terhadap counter-draft MoU dari Pemerintah Indonesia.

    "Sebagai upaya untuk percepatan finalisasi pembaruan MoU, maka Pemerintah Indonesia melalui Atnaker RI di Korea telah meminta pihak Ministry of Employment and Labor of Korea untuk melakukan bilateral meeting secepatnya,” kata Aris.

    Pada hari yang sama, Menaker Ida Fauziyah juga menerima kunjungan Dubes RI LBBP Untuk Selandia Baru Merangkap Samoa dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya. Selain silaturahmi, pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara, khususnya dalam bidang ketenagakerjaan.

    Turut hadir mendampingi Menaker, Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri, Indah Anggoro Putri dan Direktur PPTKLN, Eva Trisiana. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.