Taman Maju Bersama: Dari Cegah Banjir Hingga Kurangi Polusi Udara

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Taman Piknik di Kalimalang Jakarta Timur (Foto: Doc.Humas Pemprov DKI Jakarta)

    Taman Piknik di Kalimalang Jakarta Timur (Foto: Doc.Humas Pemprov DKI Jakarta)

    INFO NASIONAL — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam kurun waktu dua tahun terakhir, gencar membangun infrastruktur publik sebagai ruang ketiga bagi masyarakat ibu kota. Ruang Ketiga merupakan tempat berinteraksinya masyarakat, di mana setiap pembangunannya memiliki nilai bernama Kesetaraan. Salah satu pembangunan ruang ketiga yang massif dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta adalah taman kota.

    Taman kota dapat berupa Taman Maju Bersama atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) lainnya, misalnya Taman Dukuh Atas Jakarta Pusat, Taman Kembang Kerep Jakarta Barat, dan taman yang sudah eksis dan perlu direvitalisasi agar menjadi lebih baik, seperti Taman Menteng dan Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

    Namun, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan pembangunan Taman Maju Bersama (TMB) memiliki paradigma yang berbeda dalam pembangunan taman-taman sebelumnya, yaitu Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Meskipun keduanya sama-sama tergolong Ruang Terbuka Hijau (RTH), Taman Maju Bersama lebih variatif, tematik, disesuaikan dengan karakteristik dan luas lahannya, serta dibangun secara kolaboratif bersama masyarakat.

    Taman Maju Bersama didominasi oleh ruang terbuka dan berkonsep park dibanding garden. Sehingga, meskipun sama-sama berlokasi di tengah-tengah pemukiman, dengan hadirnya konsep park tersebut, warga menjadi lebih leluasa untuk dapat bermain di atas rumput dikarenakan minimnya pembangunan di tengah-tengah taman. 

    Konsekuensi dari minimnya pembangunan di tengah taman tersebut, Taman Maju Bersama dapat pula berfungsi dari sisi ekologis, yaitu sebagai resapan air untuk menjaga ketersediaan air tanah, baik saat musim hujan terlebih saat musim kemarau. 

    Salah satu contoh suksesnya pembangunan Taman Maju Bersama adalah di Taman Piknik di Jalan Manunggal II, Cipinang Melayu, Makassar, Jakarta Timur. Di taman seluas 1 hektare tersebut, warga tidak hanya bisa merasakan hijaunya taman, tapi juga merasakan sejuknya udara karena memiliki danau buatan dengan ragam jenis ikan di dalamnya dan tanaman eceng gondok.

    Selain pembangunan Taman Maju Bersama, pada tahun 2019 ini pula, Pemprov DKI Jakarta merevitalisasi dua jenis Taman Grande, yaitu Taman Mataram dan Taman Puring. Revitalisasi kedua taman ini dilakukan pertama kali pada 16 Agustus 2019 dan ditargetkan selesai pada 15 Desember 2019. 

    Berbeda dengan Taman Maju Bersama yang benar-benar baru dibangun, konsep Taman Grande lebih menekankan untuk revitalisasi taman-taman yang berskala besar dengan tetap menjadi lahan untuk retensi air. Konsep taman ini adalah Fun Transit Park, yaitu sebagai tempat transit yang nyaman para pedestrian karena terintegrasi dengan transportasi publik. Sehingga, selain untuk transit, Taman Grande juga mendukung untuk RTH (ekologis), penuh sarana bermain (playful), termasuk dapat diakses siapa pun termasuk berpenyandang disabilitas (inclusive).    

    Kebutuhan akan RTH di Jakarta tidak cukup hanya dalam rangka untuk memenuhi amanat perundang-undangan semata. Jakarta juga perlu mempercepat penyelesaian target pembangunan RTH tersebut, dalam rangka untuk menjawab respon publik terhadap tingginya pencemaran udara di langit Jakarta. Oleh karena itu, pada 1 Agustus 2019, Gubernur Anies menandatangani Instruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara. 

    Dalam Ingub tersebut, Gubernur Anies menggalakkan penanaman tanaman berdaya serap polutan tinggi mulai pada tahun 2019, hingga menekankan para pengelola gedung untuk untuk menerapkan prinsip green building. Beberapa tanaman yang ditekankan untuk massif ditanam tersebut misalnya adalah bougenville, tabebuya, sansiviera (lidah mertua), dan sirih kuning.

    Kepala Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Suzi Marsitawati, mengatakan pihaknya akan menanam 100.000 bunga bougenville di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan MH Thamrin. Alasan pemilihan bunga bougenville lantaran tanaman tersebut mempunyai kemampuan penyerapan polutan dengan kualitas tinggi. "Dinas Kehutanan akan menanam tanaman hias secara seperti bougenville yang memiliki penyerapan udara dalam kategori tinggi sebesar 45,43 miligram per gram. Sebagai langkah awal menanam 100.000 bougenville di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan MH Thamrin. Nantinya akan dilanjutkan secara bertahap (penanaman) di lokasi lainnya di Jalan Casablanca, Jalan Dr Satrio, dan Jalan Salemba Raya," ujar Suzi.

    Di sisi lain, penggalakkan tersebut tak cukup hanya dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta semata, melainkan perlu juga keterlibatan (kolaborasi) yang intensif dari masyarakat. Oleh karena itu, pada Minggu 18 Agustus 2019, Gubernur Anies telah meluncurkan gerakan #200Taman2JutaTanaman untuk melibatkan beragam instansi dan komunitas warga di bidang lingkungan hidup. 2 juta tanaman tersebut berupa 500.000 pohon dan 1.500.000 tanaman hias.

    Hingga September 2019, progress penanaman Tanaman Hias telah mencapai 339.590 tanaman, dan penanaman pohon mencapai 6.787 pohon.

    Dengan hadirnya beragam taman kota yang telah, sedang, dan terus dilakukan pembangunannya tersebut, membuktikan Pemprov DKI Jakarta berkomitmen penuh untuk mengimplementasikan ruang ketiga yang nyaman bagi warganya. Sehingga, penataan kota menjadi lebih maju dan melibatkan seluruh komponen masyarakat sesuai dengan konsep City 4.0. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.