Kebakaran Hutan, Jalur Pendakian Gunung Anjasmoro Ditutup

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Arjuno yang membumbung terlihat dari Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, Senin, 21 Oktober 2019. Karhutla masih berlangsung sejak awal pekan lalu setelah sebelumnya juga terbakar hampir dua pekan pada Juli tahun ini. TEMPO/Abdi Purmono

    Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Arjuno yang membumbung terlihat dari Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, Senin, 21 Oktober 2019. Karhutla masih berlangsung sejak awal pekan lalu setelah sebelumnya juga terbakar hampir dua pekan pada Juli tahun ini. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Jombang - Pendakian Gunung Anjasmoro di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ditutup akibat kebakaran hutan. “Sejak tadi pagi jam 07.00 ditutup sampai kondisi kondusif,” kata Kordinator Operasional Lapangan, Penanggulangan Bencana, dan Kebakaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang Stevie Maria atau akrab disapa Peppy, Senin malam, 21 Oktober 2019.

    Dua pendaki sempat terjebak kebakaran dan sudah berhasil dievakuasi Ahad malam, 20 Oktober 2019.

    Menurut Peppy, 4-5 hari lalu kebakaran sempat padam setelah turun hujan namun kembali terbakar kemarin, 21 Oktober 2019. Luas hutan yang terbakar pada gunung dengan ketinggian 2.280 meter di atas permukaan laut itu sudah mencapai kurang lebih 30 hektare. “Lahan yang terbakar irisan (perbatasan) antara lahan Tahura Raden Soerjo dan Perhutani Jombang.”

    Sekitar 70 persen termasuk lahan hutan lindung yang dikelola Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo dibawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan sisanya termasuk lahan hutan produksi Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jabung dibawah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Jombang. Secara administratif pemerintahan, hutan Perhutani yang terbakar termasuk dalam wilayah Dusun Segunug, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Jombang.  

    Peppy mengatakan karena lokasi lahan kebakaran hutan di lereng dan sangat jauh, sehingga tidak memungkinan menggunakan pompa dan selang untuk memadamkan api. “Petugas menggunakan cara manual dengan gepyok (memukul) pakai ranting daun,” ujarnya.

    BPBD Jombang terus memantau perkembangan kebakaran terutama jika sudah mendekati pemukiman. Jarak hutan yang terbakar dengan pemukiman sekitar 5 sampai 7,5 kilometer.

    BPBD setempat bersama Perhutani dan lintas sektor terus memantau melalui jaringan telekomunikasi. Selain itu, BPBD juga memantau perkembangan titik api melalui citra satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang bisa diakses melalui jaringan internet.

    Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jombang Gunadi mengatakan pihaknya terus berkordinasi dengan BPBD di daerah lain untuk memantau perkembangan kebakaran hutan. “Kami berkordinasi dengan BPBD Pasuruan dan Mojokerto yang berbatasan dengan Jombang.”

    Menurut dia, BPBD Jombang telah meminta bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk pemboman air atau water bombing dengan menggunakan helikopter. “Sebab api sangat besar dan cepat merambat karena angin kencang.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.