Lobi di Sekitar Ketua MPR, dari Jokowi, hingga Said Aqil Siradj

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (dari kanan) Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani, dan Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno seusai pertemuan pimpinan ketiga partai di Jakarta Selatan, Selasa, 31 Juli 2018. Partai Gerindra dan Partai Demokrat resmi memutuskan berkoalisi di pilpres 2019 setelah ada pertemuan antara Prabowo Subianto dan SBY. TEMPO/Budiarti Utami Putri

    (dari kanan) Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani, dan Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno seusai pertemuan pimpinan ketiga partai di Jakarta Selatan, Selasa, 31 Juli 2018. Partai Gerindra dan Partai Demokrat resmi memutuskan berkoalisi di pilpres 2019 setelah ada pertemuan antara Prabowo Subianto dan SBY. TEMPO/Budiarti Utami Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Sore hingga malam Jumat menjelang pemilihan Ketua MPR RI, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa dan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto bertemu Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno. Keduanya meminta Pratikno berbicara dengan Presiden Jokowi mengenai dinamika pemilihan Ketua MPR RI. Hingga detik-detik terakhir, Gerindra masih bersikukuh mengajukan Ahmad Muzani sebagai calon Ketua MPR RI, meski harus voting. Sedangkan sembilan fraksi di MPR sudah menyatakan dukungan untuk calon dari Golkar, Bambang Soesatyo.

    "Kami sampaikan lewat Pak Pratik, bagaimanapun MPR ini lembaga permusyawaratan rakyat, jadi pemilihannya harus secara musyawarah mufakat," kata Hasto kepada Tempo pada Kamis malam, 3 Oktober 2019. Pesan itu, disampaikan oleh Pratikno kepada Presiden Jokowi. "Jadi, kami berbagi tugas lah tadi."

    Hasto tidak tahu-menahu soal adanya pembicaraan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di detik-detik terakhir menjelang pemilihan, seperti klaim Sekretaris Gerindra Ahmad Muzani. "Aku pengajian setelah itu (setelah bertemu Pratikno)," ujar dia.

    Bambang Soesatyo terpilih secara aklamasi menjadi Ketua MPR RI pada Kamis malam, 3 Oktober 2019. Bambang didukung sembilan fraksi partai politik di MPR dan satu fraksi kelompok DPD. Dengan dukungan 10 fraksi itu, Ketua MPR RI terpilih secara aklamasi dengan cara musyarawah mufakat alias tanpa voting. Padahal, beberapa jam sebelum Bambang terpilih secara aklamasi, Gerindra sempat bersikukuh agar pemilihan dilakukan dengan cara voting dan mengajukan calon dari partainya, Ahmad Muzani.

    Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Ketua F-MPR Gerindra, Ahmad Riza Patria sempat bertolak ke kediaman Prabowo Subianto di Kertanegara, Jakarta, guna menyampaikan dinamika pemilihan Ketua MPR RI. Sedangkan Ahmad Muzani mengunjungi Ketua PBNU Said Aqil Siradj untuk meminta doa restu maju sebagai calon Ketua MPR RI.

    Sidang MPR yang semula digelar pukul 19.40 sempat diskors menunggu Muzani dan beberapa pimpinan Gerindra yang tak kunjung tiba di lokasi sidang, sesuai waktu yang dijadwalkan. Selain itu, terjadi perdebatan soal pemilihan Ketua MPR melalui voting atau musyawarah mufakat.

    Sekitar pukul 21.00, Muzani baru tiba. Dia datang dengan wajah tampak lesu. Kemudian, Ketua Fraksi MPR RI Ahmad Riza Patria mengumumkan bahwa Gerindra akhirnya mendukung Bambang sebagai Ketua MPR RI Periode 2019-2024. “Untuk kepentingan lebih besar, kepentingan persatuan kesatuan kami mengedepankan musyawarah mufakat dan hasil konsultasi Pak Prabowo dengan Ibu Megawati, kami Gerindra sudah sepakat mengusung Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR 2019-2024," ujar Riza.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.