Selasa, 24 September 2019

Hendropriyono Bicara Soal Penghianat di Kerusuhan Papua

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono di Gedung  Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad, 19 Mei 2019. Tempo/Irsyan Hasyim

    Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono di Gedung Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad, 19 Mei 2019. Tempo/Irsyan Hasyim

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Kepala BIN Hendropriyono mengatakan keberadaan pengkhianat di dalam negara ini sangat membahayakan keutuhan bangsa, termasuk adanya penghianat di kerusuhan Papua.

    "Lebih bagus kita tambah 1.000 musuh daripada satu orang penghianat. Kita harus membersihkan negeri ini dari orang-orang yang melakukan penghianatan," kata Hendropriyono seperti dikutip Antara di Jakarta, Kamis malam, 5 September 2019.

    Oleh karena itu menurut dia, rakyat dan semua elemen harus bersatu demi mencegah penghianat mencari panggung bagi kepentingan mereka sendiri pada kerusuhan Papua.

    Caranya menurut dia, dengan tidak memberikan berbagai pandangan yang bisa menguntungkan orang-orang yang berniat membuat Papua bergejolak.

    Selain itu, juga perlu adanya tindakan cooling down terhadap berbagai macam publikasi kerusuhan dan keributan yang terjadi di Papua.

    "Kita harus melawan, bersatu padu dan yang mempersatukan kita cuma satu, ideologi yaitu Pancasila. Kebhinekaan kita jaga supaya tidak pecah belah," katanya.

    Dia juga meminta kepada pihak-pihak yang membuat kerusuhan di Papua untuk berhenti mencari panggung demi kepentingan diri, LSM atau kelompok mereka.

    Sekitar pukul 19.00 WIB, Kamis malam, Hendropriyono menerima kedatangan Prabowo Subianto di kediamannya Senayan Residence. Selain temu kangen, keduanya mendiskusikan berbagai masalah kebangsaan, termasuk soal pemulihan Papua.

    Menurut Prabowo, semua pihak harus bersama-sama mengatasi masalah Papua. Dia menilai seharusnya tak ada yang memecah belah Indonesia dan Papua.

    "Saya yakin tidak benar kalau ada yang mau memecah belah saudara-saudara kita di Papua, karena memang saudara-saudara kita, bagian integral dari Republik Indonesia," kata dia.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Chip Smart SIM Catat Data Forensik dan Pelanggaran Lalu Lintas

    Berbeda dari kartu SIM sebelumnya, Smart SIM memiliki tampilan baru dan sejumlah fitur tambahan. Termasuk menjadi dompet elektronik.