Polri: Kota Manokwari dan Kota Sorong Sudah Kondusif

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah polisi membersihkan sisa kerusuhan di salah satu ruas jalan di Manokwari, Papua Barat, Selasa, 20 Agustus 2019. Kondisi Manokwari sudah kondusif dan warga mulai melakukan aktivitas di ruang publik meskipun dalam skala terbatas. ANTARA

    Sejumlah polisi membersihkan sisa kerusuhan di salah satu ruas jalan di Manokwari, Papua Barat, Selasa, 20 Agustus 2019. Kondisi Manokwari sudah kondusif dan warga mulai melakukan aktivitas di ruang publik meskipun dalam skala terbatas. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Markas Besar Polri memastikan situasi di Kota Manokwari dan Kota Sorong, Papua Barat, pada Rabu, 21 Agustus 2019 telah kondusif. 

    "Situasi secara umum sudah kondusif dan masyarakat sudah kembali normal," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo saat dihubungi, Rabu, 21 Agustus 2019. 

    Dedi mengatakan sudah ada kesepakatan dari masyarakat setempat untuk tidak turun ke jalan dan kembali menggelar aksi. Kendati demikian, Polri tetap berjaga-jaga dengan menurunkan 570 personel di Kota Manokwari. Sedangkan untuk Kota Sorong, Polri menerjunkan 390 personel.

    Selain itu, Dedi kembali menegaskan bahwa ratusan anggota tersebut tidak dibekali peluru tajam. Dalam meredam massa, polisi maupun TNI, kata Dedi, menerapkan pendekatan lunak. 

    “Untuk aparat kepolisian dalam melakukan keamanan tidak dibekali peluru tajam. Kami khawatir ada pihak tertentu yang memanfaatkan, akhirnya ada martir. Nanti sudah kondusif jadi ricuh kembali,” kata Dedi.

    Selain terjun ke lapangan untuk mencegah tindakan anarkis massa, Dedi mengatakan Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri juga terus memantau akun-akun yang dinilai menyebarkan konten provokatif. 

    Sejauh ini, sudah ada lima akun yang dikantongi dan sedang dilakukan pemetaan oleh penyidik. "Jadi ada lima akun yang sedang dipetakan. Akun-akun tersebut menyebarkan narasi provokatif," ujar Dedi.

    Sebab, berdasarkan keterangan polisi sebelumnya, massa yang berunjuk rasa diduga terprovokasi konten negatif di media sosial aksi berbuntut kericuhan. Menurut Dedi, konten-konten tersebut berisi berita bohong atau hoaks terkait penangkapan 43 mahasiswa Papua di Surabaya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kepolisian Menetapkan Empat Perusahaan Tersangka Kasus Karhutla

    Kepolisian sudah menetapkan 185 orang dan empat perusahaan sebagai tersangka karena diduga terlibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.