PDIP: Megawati Tak Masalah Jika Demokrat Masuk Koalisi Jokowi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres nomor urut 01, Jokowi (tengah) berjabat tangan dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri (kiri) disaksikan KH Ma'ruf dalam keterangan pers hasil quick count Pemilu 2019 Poltracking Indonesia di Jakarta Teater, Jakarta, Rabu, 17 April 2019. Berdasarkan hasil hitung cepat, sementara ini Jokowi unggul atas Prabowo. TEMPO/Subekti.

    Capres nomor urut 01, Jokowi (tengah) berjabat tangan dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri (kiri) disaksikan KH Ma'ruf dalam keterangan pers hasil quick count Pemilu 2019 Poltracking Indonesia di Jakarta Teater, Jakarta, Rabu, 17 April 2019. Berdasarkan hasil hitung cepat, sementara ini Jokowi unggul atas Prabowo. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Fraksi PDIP Bambang Wuryanto mengatakan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tak mempersoalkan jika Demokrat masuk koalisi pendukung pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi. “Itu terserah Presiden," kata Bambang seperti dikutip dari Majalah Tempo edisi 13-19 Mei 2019.

    Baca Majalah Tempo edisi terbaru Siap-Siap Ganti Kabinet

    Hal itu diungkapkan Bambang, menyusul spekulasi bahwa peluang Demokrat bergabung ke koalisi pemerintahan masih terganjal luka lama hubungan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Kedua mantan presiden itu sangat jarang bertemu setelah Pemilu 2004, dimenangi Yudhoyono.

    Bambang menyebut, Megawati tak menyimpan atau mewariskan dendam terhadap SBY. "Buktinya, Mbak Puan (Puan Maharani, putri Megawati) membesuk Ibu Ani (istri Yudhoyono) di Singapura,” ujarnya.

    Sebelum menentukan arah koalisi Demokrat pada akhir Juli 2018 lalu, SBY blak-blakan soal hubungannya dengan Megawati Soekarnoputri. "Saya harus jujur, hubungan saya dengan Ibu Megawati belum pulih. Masih ada jarak," kata SBY di kediamannya, bilangan Mega Kuningan, Jakarta pada Rabu malam, 26 Juli 2018.

    SBY mengaku berusaha memulihkan hubungannya yang retak dengan Megawati sejak 2004.  Ia mengaku berulang kali mencoba menjalin komunikasi kembali dengan mantan bosnya itu setelah pemilihan presiden 2004.

    Baca juga: Sikap Koalisi Jokowi Terbelah Soal Peluang Demokrat - PAN Gabung

    Kisah itu juga pernah disampaikan Presiden SBY lewat bukunya, Selalu Ada Pilihan yang diluncurkan Jumat, 17 Januari 2014. SBY menduga, barangkali persaingan mereka dalam dua kali pemilihan presiden begitu membekas dalam hati dan pikiran Mega. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.