Pengamat Ingatkan PDIP Supaya Tak Seperti Demokrat di 2024

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait (kedua kiri) berjabat tangan dengan Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi (kedua kanan) disaksikan Sekretaris Jendral (Sekjen) DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani (kiri) dan Wasekjen Partai Demokrat Saan Mustofa ketika menjadi pembicara pada rilis survey tentang Efek Kampanye dan Efek Jokowi: Elektabilitas Partai Jelang Pemilu Legislatif 2014 di Jakarta (4/4). ANTARA/Wahyu Putro

    Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait (kedua kiri) berjabat tangan dengan Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi (kedua kanan) disaksikan Sekretaris Jendral (Sekjen) DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani (kiri) dan Wasekjen Partai Demokrat Saan Mustofa ketika menjadi pembicara pada rilis survey tentang Efek Kampanye dan Efek Jokowi: Elektabilitas Partai Jelang Pemilu Legislatif 2014 di Jakarta (4/4). ANTARA/Wahyu Putro

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP menghadapi tantangan besar jika ingin kembali memenangkan Pemilihan Umum 2024 mendatang. Yang paling utama, adalah hilangnya sosok kader yang memiliki ketokohan kuat, seperti yang dimiliki oleh Presiden Joko Widodo saat ini.

    "Pemilu kita didesain untuk mencetak satu perilaku pemilih yang cenderung kuat didasarkan personalisasi politik, ketokohan, ketimbang instutusional partai," kata Burhanuddin dalam diskusi di DPP PDIP, di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu, 3 Agustus 2019.

    Jokowi memang tak mungkin kembali maju sebagai calon presiden di 2024 karena telah dua kali menjabat. Padahal, Burhanuddin mengatakan, sosok Jokowi menjadi kunci kemenangan PDIP selama Pemilu 2014 dan 2019. "Ketika Pak Jokowi tidak bisa maju lagi 2024, skenario buruk seperti dialami Partai Demokrat pada 2014, bisa terulang."

    Pada 2014, Partai Demokrat mengalami apa yang disebut oleh Burhanuddin sebagai electoral collapse. Raihan suaranya anjlok jauh setelah Ketua Umum sekaligus pendiri partai, Susilo Bambang Yudhoyono, tak lagi bisa maju sebagai calon presiden. Suara Demokrat rontok dari 20,58 persen pada 2009, menjadi hanya di kisaran 10 persen pada 2014.

    Selain karena faktor SBY, Burhanuddin menyebut, tak ada lagi sosok yang memiliki ketokohan kuat di tubuh Partai Demokrat sehingga partai itu terpuruk.Atas dasar itu, Burhanuddin mengingatkan PDIP agar semakin gencar menguatkan ketokohan kadernya jika ingin mencetak hattrick kemenangan tiga kali pada Pemilu 2024.

    "Pertanyaannya adalah siapa capres PDIP di 2024. Karena ujungnya capres itu adalah yang mengigit elektoral. Dia yang menjadi sapuan di tingkat nasional," kata Burhanuddin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.