Makna Pentas Wayang di Istana, Aria Bima: Raja yang Bijaksana

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Fraksi PDI Perjuangan, Aria Bima (kiri) saat mengikuti Rapat Pimpinan Sementara dengan Pimpinan Fraksi dan Pimpinan Kelompok DPD di Ruang Rapat GBHN, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 6 Oktober 2014. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Anggota Fraksi PDI Perjuangan, Aria Bima (kiri) saat mengikuti Rapat Pimpinan Sementara dengan Pimpinan Fraksi dan Pimpinan Kelompok DPD di Ruang Rapat GBHN, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 6 Oktober 2014. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi bakal menggelar pentas wayang kulit di Istana Merdeka, malam ini dengan lakon Kresna Jumeneng Ratu. Ini merupakan kali pertama Jokowi mengadakan pentas wayang kulit di Istana selama lima tahun menjabat sebagai presiden.

    Politikus PDI Perjuangan, Aria Bima mengatakan lakon Kresna Jumeneng Ratu merepresentasikan seorang raja yang bijaksana dalam memerintah negara. Selain itu lakon Kresna merupakan raja yang biasa memecahkan masalah dengan akal sehat.

    "Raja menolak pendekatan kekuasaan yang otoriter. Hal tersebut tercermin dalam diri Kresna," katanya lewat pesan singkat, Jumat, 2 Agustus 2019.

    Menurut Aria, lakon Kresna Jumeneng Ratu yang dipentaskan di Istana ini terkandung maksud jika Jokowi di periode kedua pemerintahannya bakal lebih mendengar aspirasi rakyat, memutuskan kebijakan dengan lugas dan demokratis demi kepentingan masyarakat. "Atau visioner partisipatif," ujarnya.

    Dalam cerita perwayangan, Kresna dikisahkan berhasil mengalahkan raja raksasa yang bernama Prabu Narasingha. Setelah mengalahkan Narasingha, Kresna menjadi pemimpin Negara Dwarawati yang masyarakatnya terdiri dari manusia dan raksasa.

    Aria menuturkan, perwujudan raja raksasa yang dikalahkan Kresna adalah semua pihak yang mencoba menggagalkan program ratu. "Istilah modernnya adalah Nekolim (Neokolonialisme-Kolonialisme-Imperialisme) tentunya dengan bentuk dan cara yang sudah berubah, Nekolim yang lebih smart termasuk memecah belah masyarakat dan kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf Amin," tuturnya.

    Pagelaran wayang kulit ini bagian dari rangkaian acara menyambut HUT RI ke-74 pada 17 Agustus 2019. Berdasarkan poster acara yang tersebar, rencananya pentas wayang kulit didalangi oleh Ki Manteb Sudarsono dan dimeriahkan pula oleh Didi Kempot, Butet Kartaredjasa, Cak Lontong, Edo Kondologit, Soimah, Kirun, Den Bagus Ngarso, dan Endah Laras.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.