Djoko Santoso Nilai Prabowo Berkoalisi atau Oposisi Sama Bagusnya

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua BPN Prabowo - Sandi, Djoko Santoso memberikan sambutan dalam acara yang bertajuk Mengungkap Fakta-fakta Kecurangan Pilpres 2019 di Jakarta, Selasa, 14 Mei 2019. Djoko Santoso menyebut kubunya menolak hasil perhitungan suara Pilpres 2019 oleh KPU. TEMPO/Amston Probel

    Ketua BPN Prabowo - Sandi, Djoko Santoso memberikan sambutan dalam acara yang bertajuk Mengungkap Fakta-fakta Kecurangan Pilpres 2019 di Jakarta, Selasa, 14 Mei 2019. Djoko Santoso menyebut kubunya menolak hasil perhitungan suara Pilpres 2019 oleh KPU. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Djoko Santoso, menyerahkan urusan koalisi sepenuhnya kepada Prabowo. Ia menilai tak ada perbedaan terlalu jauh antara menjadi oposisi pemerintah atau bergabung dengan mereka.

    "Saya kira mau Pak Prabowo di oposisi juga bagus. Mau gabung juga bagus, ya. Yang penting tujuannya untuk negara dan bangsa," kata Djoko saat ditemui di Kantor Kementerian Pertahanan, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin, 29 Juli 2019.

    Menurut Djoko, jika bergabung koalisi pemerintah, Prabowo akan ikut berpartisipasi dalam membangun bangsa. Jika berada di kubu oposisi, partisipasi tetap dilakukan dalam bentuk kritik terhadap pemerintah.

    "Ini baru awal dari satu proses, ya. Kita tunggu saja wewenang pimpinan-pimpinan untuk ambil keputusan," kata Djoko.

    Lobi-lobi antara Prabowo dengan kubu pemerintah sudah mulai dilakukan pascapenetapan Joko Widodo atau Jokowi sebagai presiden terpilih periode 2019-2024. Setelah Prabowo bertemu Jokowi di Stasiun MRT, pekan kemarin Prabowo menemui Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri di kediamannya.

    Terkait pertemuan-pertemuan ini, Djoko enggan banyak berkomentar. Apalagi saat ini, BPN sudah resmi dibubarkan. "Itu masalah politik, wewenangnya Pak Prabowo. Saya hanya ngatur pasukan saja, sudah selesai," kata Djoko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.