Saat Purnawirawan Jenderal TNI Pro Jokowi dan Pro Prabowo Bertemu

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso menghadiri agenda debat capres kedua di Hotel Sultan Jakarta, Ahad, 17 Februari 2019. TeEMPO/Syafiul Hadi

    Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso menghadiri agenda debat capres kedua di Hotel Sultan Jakarta, Ahad, 17 Februari 2019. TeEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Purnawirawan Jenderal TNI yang berseberangan pilihan politik dalam pemilihan presiden 2019 bertemu di Kementerian Pertahanan. Setidaknya terlihat dua pensiunan jenderal yang bertemu yaitu Agum Gumelar yang selama Pilpres 2019 ada di kubu Joko Widodo. Adapun dari kubu Prabowo hadir Jenderal (Purnawirawan) Djoko Santoso yang merupakan mantan Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo - Sandiaga.

    Sebenarnya, beberapa tokoh lain seperti Jenderal (purnawirawan) Moeldoko yang merupakan Ketua Harian Tim Kampanye Nasional (TKN) sekaligus Kepala Staf Presiden, juga diundang. Namun ia tak nampak hadir di lokasi acara Silaturahmi Purnawirawan TNI bertema "Dengan Jiwa Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, Keluarga Besar TNI selalu menjaga Soliditas guna Mengawal Keutuhan NKRI" di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin, 29 Juli 2019.

    Baik Agum maupun Djoko sama-sama memberikan sambutan. Agum dalam sambutannya menegaskan pentingnya soliditas di antara aparatur keamanan negara.

    "Saya ingin menambahkan, soliditasnya kita lebih perluas. Kalau di sini mungkin soliditas internal kita, unsur TNI darat, laut, dan udara. Tapi saya ingin diperluas soliditas kita dalam membentuk soliditas TNI dan Polri," kata Agum.

    Agum banyak membahas tentang pengalamannya menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan di era Presiden Abdurrahman Wahid. Ia menjelaskan soliditas antara TNI-Polri saat itu yang menjadi kunci stabilitas negara.

    Adapun Djoko Santoso, lebih banyak membahas terkait potensi ancaman yang akan dihadapi Indonesia ke depan. Ia menilai hal ini sangat berat, apalagi dengan perkembangan teknologi saat ini.

    "Nasionalisme kita sudah luruh. Kita tak akan menang dari kapitalisme, dari liberalisme, kalau (nasionalisme) sudah luruh. Kita harus bangkitkan lagi," kata Djoko.

    Agum sendiri tak mengikuti pidato Djoko. Usai memberi sambutan, ia langsung pulang dengan alasan ada agenda lain yang telah menunggunya. Sebelum pulang, Agum menyempatkan diri menyalami beberapa tokoh yang hadir, termasuk Djoko Santoso.

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, tak menampik adanya silaturahmi ini adalah untuk menyatukan kembali para purnawirawan yang terpecah selama Pilpres 2019 lalu. Ia mengatakan hal seperti ini akan terus dilakukan.

    "Kita minta TNI dan purnawirawan itu bisa kemana-mana. Maksudnya ya tadi meyakini NKRI dengan dasar Pancasila dan UUD 45. Kalau itu dijaga dan menularkan itu ke partai-partai, lebih bagus," kata Ryamizard.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.