Ijtima Ulama PA 212 Bahas Status Rizieq Shihab pada Agustus

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris Jenderal Koordinator Pelaporan Bela Islam Novel Bamukmin (kanan) mendatangi kantor Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Rabu, 26 September 2018. TEMPO/Lani Diana

    Sekretaris Jenderal Koordinator Pelaporan Bela Islam Novel Bamukmin (kanan) mendatangi kantor Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Rabu, 26 September 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Persaudaraan Alumni atau PA 212 akan menggelar Ijtima Ulama keempat pada awal Agustus 2019. “Bahasan utama Ijtima Ulama ini adalah masalah status HRS," kata juru bicara PA 212 Novel Bamukmin saat dihubungi pada Ahad, 14 Juli 2019. HRS adalah Rizieq Shihab, pempimpin Front Pembela Islam (FPI).

    Ketika ditanya apakah kepulangan Rizieq masih akan meminta bantuan Prabowo Subianto, Novel mengatakan masih akan berdiskusi. Hal ini menyangkut pernyataan PA 212 yang menolak rekonsiliasi antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo. "Semua akan ditentukan dalam hasil putusan ijtima ulama keempat."

    Baca juga: PA 212: Prabowo Lebih Dengar Masukan dari Pengkhianat

    Selain menolak rekonsiliasi Jokowi-Prabowo, PA 212 juga mengaku sudah tak pernah berkomunikasi dengan Prabowo sejak putusan sengketa Pemilihan Presiden oleh Mahkamah Konstitusi 28 Juni 2019. "Mungkin Prabowo lebih mendengar masukan dari orang-orang sekitarnya yang jadi pengkhianat," kata juru bicara PA 212 Novel Bamukmin pada Sabtu, 13 Juli 2019.

    Baca jugaJokowi Bertemu Prabowo, PA 212 Akan Gelar Ijtima Ulama Ke-4

    Selain status Rizieq Shihab, PA 212 juga akan membahas tentang kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif yang menurut mereka terjadi dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019. Mereka juga akan membahas tewasnya sejumlah orang dalam kerusuhan 22 Mei. “Serta kriminalisasi ulama, tokoh dan aktivis,” ujar Novel.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diduga Ada Enam Perkara Di Balik Teror Terhadap Novel Baswedan

    Tim gabungan kepolisian menyebutkan enam perkara yang ditengarai menjadi motif teror terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan.