Kata FPI Soal Pertemuan MRT Jokowi-Prabowo

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) saat pertemuan di FX Senayan, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019. ANTARA

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) saat pertemuan di FX Senayan, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) enggan berkomentar ihwal pertemuan antara presiden terpilih Joko Widodo alias Jokowi dengan Ketua Dewan pembina Partai GerindraPrabowoSubianto, di Jakarta, Sabtu, 13/7, lalu. "Kami tidak pada kompetensi mengomentari hal tersebut," kata dia Sabtu malam, 13 Juli 2019.

    Baca jugaAlasan Prabowo Baru Sekarang Ucapkan Selamat pada Jokowi

    Jokowi dan Prabowo akhirnya bertemu untuk pertama kali sejak pemilihan presiden 17 April lalu. Pertemuan di gelar di stasiun Moda raya Transportasi (MRT) Lebak Bulus, Jakarta. Banyak pihak mendorong agar keduanya bertemu untuk mendinginkan suhu politik yang dinamis dan meningkat sejak coblosan itu.

    Meski demikian, Munarman mengatakan masyarakat yang mendukung Prabowo dalam pilpres akan setia memperjuangkan tegaknya keadilan. "Umat juga menolak cara curang dan kotor dalam kehidupan bernegara," kata dia.

    Lain hal dengan FPI, Persaudaraan Alumni 212 menyatakan menolak rekonsiliasi dalam pertemuan Jokowi-Prabowo. Juru bicara PA 212 Novel Bamukmin mengatakan tak ikut campur dalam pertemuan itu. Menurut dia, sejak putusan Mahkamah Konstitusi dalam sengketa pilpres, pihaknya tak berkomunikasi lagi dengan Prabowo.

    Ia menuding Prabowo lebih mendengar akan orang sekitarnya yang dia anggap pengkhianat. Novel berkata akan segera menggelar Ijtima Ulama 4 untuk menentukan sikap terkait pertemuan tersebut.

    Ketua Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama Yusuf Martak belum mengambil sikap terkait pertemuan Prabowo-Jokowi. Kelompok yang getol mendukung Prabowo saat Pemilihan Presiden 2019 ini menyatakan akan membahas sikap pada Ijtima Ulama ke-4. “Insya Allah benar, tapi tidak khusus untuk membahas itu saja, banyak hal lain yang harus dibahas,” kata Ketua Umum GNPF Ulama Yusuf Martak, dihubungi, Ahad, 24 Juli 2019.

    Yusuf menganggap pertemuan antara Prabowo dan Jokowi sebagai fenomena biasa dalam perpolitikan. Ia mengatakan sudah bisa memprediksi pertemuan ini sejak lama.

    Dia tak pernah membatasi atau ingin ikut campur dalam pertemuan itu. Dia mempersilahkan Prabowo mengambil tindakan. “Kami santai saja, tidak ada tanggapan yang serius,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diduga Ada Enam Perkara Di Balik Teror Terhadap Novel Baswedan

    Tim gabungan kepolisian menyebutkan enam perkara yang ditengarai menjadi motif teror terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan.