Anggap Kondisi Normal, Moeldoko: Rekonsiliasi Bukan Prioritas

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko ditemui saat open house di rumahnya, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Juni 2019. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko ditemui saat open house di rumahnya, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Juni 2019. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko menilai rekonsiliasi antara Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah terbangun. Para pendukung keduanya, kata dia, juga telah memperbaiki hubungan pascapemilihan presiden.

    Kalau pun Jokowi dan Prabowo didesak untuk bertemu, hal itu hanya masalah waktu karena kondisi sudah normal selepas Pilpres. "Kalau semua sudah berjalan normal saya pikir juga bukan menjadi sebuah agenda yang prioritas lah," katanya di kantornya, Gedung Bina Graha, Jakarta, Jumat, 5 Juli 2019.

    Baca juga: Syarat Rekonsiliasi Pascapilpres Menurut Twitter Dahnil Anzar

    Atas dasar itu Moeldoko menilai narasi-narasi tentang rekonsiliasi antara Jokowi-Prabowo tidak penting lagi. "Menurut saya, hal yang sudah normal sebenarnya jadi tidak terlalu penting, lah, itu dibicarakan lagi."

    Moeldoko menjelaskan pendukung Jokowi dan Prabowo saat ini telah membangun komunikasi yang baik. Jangan sampai kata-kata rekonsiliasi antara dua tokoh ini menghambat proses itu dan mencitrakan sedang terjadi sesuatu yang gawat di Indonesia. "Itu peristiwa politik yang kita pasti hadapi dari tahun ke tahun, dari lima tahun ke lima tahun dan seterusnya."

    Baca juga: Rekonsiliasi Jokowi - Prabowo, Dahnil Singgung Rizieq Shihab

    Ketimbang membesar-besarkan rekonsiliasi dua elite ini, mantan panglima TNI itu menyarankan agar fokus pada memperbaiki hubungan antarpribadi dan antarkomunitas yang sempat terbelah saat pemilihan presiden. Jangan sampai rekonsiliasi hanya memikirkan soal negoisasi dan terpaku hanya kepada elite.

    Jika rekonsiliasi harus demi kepentingan Indonesia. Ia khawatir terjebak rekonsiliasi hanya untuk memikirkan negosiasi. “Memikirkan kepentingan kelompok tertentu."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.