Kemnaker Fasilitasi Inkubasi Bisnis 15 Tenant Startup

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (Barenbang) Kemnaker, Tri Retno Isnaningsih, saat membuka Inkubasi Bisnis Talent Cube Batc-2 di Innovation Room Kemnaker, Jakarta , Kamis, 20 Juni 2019.

    Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (Barenbang) Kemnaker, Tri Retno Isnaningsih, saat membuka Inkubasi Bisnis Talent Cube Batc-2 di Innovation Room Kemnaker, Jakarta , Kamis, 20 Juni 2019.

    INFO NASIONAL — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memfasilitasi inkubasi bisnis kepada 15 tenant startup. Melalui program inkubasi bisnis ini, para tenant akan mengikuti serangkaian program pengembangan bisnis  berbasis digital.
     
    “Kita dorong agar para tenant starup yang mengikuti inkubasi bisnis ini dapat mengembangkan bisnis digital sehingga memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional,” kata Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (Barenbang) Kemnaker, Tri Retno Isnaningsih, saat membuka Inkubasi Bisnis Talent Cube Batch-2 di Innovation Room Kemnaker, Jakarta, Kamis, 20 Juni 2019.
     
    Kepala Barenbang Retno mengatakan, pengembangan inkubasi bisnis startup berbasis digital merupakan salah satu program unggulan Kemnaker dalam menghadapi industri 4.0. “Dalam program inkubasi startup ini, ide-ide bisnis berbasis teknologi mulai diciptakan serta diuji dan dipersiapkan untuk memasuki pasar. Kita fasilitasi mulai dari permulaan, penguatan, hingga pengembangan," kata Retno.
     
    Retno menambahkan, salah satu indikator berkembangnya bisnis para talent adalah banyaknya tenaga kerja yang terserap. "Salah satu indikator kita bisa mengembangkan bisnis adalah tenaga kerja yang bisa direkrut. Jadi, tujuannya adalah menarik tenaga kerja," ucap Retno.
     
    Pemerintah Indonesia, kata Retno, terus mendorong pertumbuhan wirausaha Indonesia. Karena, jumlah wirausaha di Indonesia baru mencapai 3,1 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 263 juta. Jumlah tersebut masih kalah jika dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai lima persen, Singapura (tujuh persen), maupun Jepang (sembilan persen).
     
    "Saya mengajak para pelaku bisnis untuk bisa terus memanfaatkan fasilitas dan akses yang tersedia dan tentu kami sangat senang atas saran dan masukannya mengenai apa saja yang dibutuhkan di ruang innovation room ini," ujarnya.

    Senada dengan Retno, Direktur Program Talent Indonesia, Anjani Amitya Kirana, menjelaskan lini kerja nonformal dengan digital platform semakin diminati. Indonesia pun disebutnya sangat berpotensi untuk mengembangkan sektor ini, mengingat 60 persen angkatan kerja Indonesia bekerja di sektor informal.
     
    Namun, masyarakat yang bekerja di sektor informal berbasis digital platform masih terkendala akses kolaborasi dan kelayakan hidup. Mereka juga masih terkendala pada standar skill set jenis pekerjaan baru, serta sertifikasi kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
     
    "Jadi, kita sebenarnya punya 60 persen talent potensial yang bergerak di bisnis teknologi digital. Inilah yang ingin coba dikembangkan dalam talent hub," kata Anjani.
     
    Ke depan, para peserta akan mendapat berbagai pelatihan, seperti mapping strategic partner, socializing and scouting, vocational training and business accelaration, sertification, dan match making.
     
    "Langkah selanjutnya dalam pegembangan inkubasi bisnis ini  adalah mempertemukan starup dan industri terkait agar terus tumbuh dan berkembang. Kita harapakan terwujudnya kesempatan kerja baru dan mempercepat pengurangan pengangguran," kata Anjani. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.