Terduga Pelaku Bom Kartasura Seorang Pengangguran

Reporter:
Editor:

Fransisco Rosarians Enga Geken

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara lokasi kejadian bom bunuh diri di Pospam Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin, 3 Juni 2019. Ledakan bom Kartasura, Sukoharjo menyebabkan satu orang terluka cukup parah. Korban diduga pelaku peledakan yang terjadi pada Senin malam 3 Juni 2019. ANTARA

    Petugas Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara lokasi kejadian bom bunuh diri di Pospam Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin, 3 Juni 2019. Ledakan bom Kartasura, Sukoharjo menyebabkan satu orang terluka cukup parah. Korban diduga pelaku peledakan yang terjadi pada Senin malam 3 Juni 2019. ANTARA

    SUKOHARJO - Rofik Asharudin, terduga pelaku Bom Kartasura, dikenal warga sekitar tempat tinggalnya sebagai pribadi yang sangat tertututup. Dia juga dikenal sebagai seorang pengangguran.

    Kepala Dusun Kranggan Kulon, Sudalmanto mengatakan, Rofik adalah lulusan sebuah Madrasah Aliyah sekitar dua tahun lalu. "Setelah lulus dia hanya di rumah," kata Sudalmanto kepada TEMPO, 4 Juni 2019.

    BACA: Pria Diduga Pelaku Ledakan di Sukoharjo Masih Hidup

    Sebelumnya, menurut Sudalmanto, Rofik juga pernah bekerja sebagai penjual gorengan, tapi akhirnya berhenti. Sudalmanto tidak mengetahui alasannya hingga Rofik menghentikan usahanya itu. "Kadang-kadang dia keluar penulup (berburu) burung," ujar dia. 

    Rofik juga disebut tidak pernah berinteraksi dengan para tetangganya. Bahkan, Rofik tidak pernah ikut salat berjamaah dengan warga di musola yang ada di dusun tersebut.

    BACA: Anggota Polri di Pos Polisi Kartasura Selamat dari Ledakan

    Sudalmanto mengaku sangat terkejut saat mendengar kabar bahwa Rofik diduga kuat merupakan pelaku bom Kartasura. Warga Dusun Kranggan Kulon juga mengetahuinya dari kabar di media sosial. "Kami sama sekali tidak menyangka," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.