Waktunya Semakin Dekat, Inilah Lima Hal tentang Aksi 22 Mei

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru Bicara Reuni Akbar 212 tahun 2018 Novel Bamukmin dalam acara Seminar Nasional bertajuk Reuni Akbar Alumni 212 di Hotel Whiz Hotel, Jakarta, Jumat, 16 November 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Juru Bicara Reuni Akbar 212 tahun 2018 Novel Bamukmin dalam acara Seminar Nasional bertajuk Reuni Akbar Alumni 212 di Hotel Whiz Hotel, Jakarta, Jumat, 16 November 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Aksi 22 Mei atau Ifthor Akbar 212 yang akan digelar Persaudaraan Alumni 212 pada 21 dan 22 Mei 2019 akan dihadiri oleh sejumlah tokoh pendukung Prabowo - Sandiaga Uno. Ifthor atau buka puasa bersama itu akan diselenggarakan di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta.

    Berikut adalah sejumlah fakta seputar Aksi 22 Mei atau Ifthor 212:


    1. Gagasan PA 212

    PA 212 adalah penggagas acara buka bersama ini. PA 212 merupakan perkumpulan orang-orang yang pernah mengikuti aksi 212 pada 2017. Aksi itu digelar menuntut Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dihukum karena dianggap menista agama.

    Baca juga: Moeldoko: Ada Potensi Kelompok Terlatih Membonceng Aksi 22 Mei

    Pengurus kelompok ini banyak berasal dari organisasi masyarakat Front Pembela Islam. Rizieq Shihab adalah pembina tunggal PA 212, juru bicara FPI Slamet Maarif yang menjabat Ketua Umum PA 212.

    1. Tuntutan

    Juru bicara PA 212 Novel Bamukmin mengatakan Aksi 22 Mei akan menuntut KPU menghentikan pengumuman hasil pemungutan suara. Alasannya, sudah bisa dipastikan KPU bakal mengumumkan Jokowi - Ma'ruf Amin sebagai pemenang. “Padahal diduga kuat telah melakukan kecurangan yang tersistem,” kata Novel, 16 Mei 2019. Novel mengatakan mereka juga akan menuntut KPU mendiskualifikas Jokowi - Mar'uf.

    1. Prabowo Datang atau Tidak?

    Kedatangan Prabowo Subianto dalam acara Ifthor 212 masih simpang siur. Dewan Pembina Majelis Syuro FPI, Muchsin Alatas mengatakan calon presiden nomor urut 02 itu akan memimpin acara ini. Namun, juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo - Sandiaga, Ferry Juliantono menampik hal itu. “Tidak benar,” kata dia, 18 Mei 2019.

    Kolega Ferry di BPN, Andre Rosiade mengatakan hal serupa. Tapi, dia mengatakan Prabowo memang diundang dan mungkin saja bakal datang.

    Baca juga: Jelang 22 Mei, Masyarakat Diminta Lawan Gagasan Keliru Para Elit

    1. Penolakan NU

    Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta melarang massa Aksi 22 Mei menginap di masjid di bawah NU. Alasannya, masjid itu sarana ibadah, bukan politik. Namun, sejumlah masjid yang biasa digunakan sebagai tempat menginap oleh jamaah 212 bersedia menampung massa. Di antaranya adalah Masjid Al Makmur, Bukit Duri, Jakarta Selatan dan Masjid An Nur, Petamburan. “Kami perbolehkan selama tidak menyebarkan ajaran yang macam-macam,” ujar Sekretaris Yayasan An-Nur, Edi Ruslan.

    1. Saran TKN

    Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi - Maruf, Abdul Kadir karding menilai Aksi 22 Mei adalah kegiatan politik yang sensitif dan berpotensi rusuh. Dia meminta PA 212 berpikir dua kali bila akan menyelenggarakan acara itu. “Jangan sampai ada yang menunggangi, itu berbahaya. Tolong renungkan kembali,” kata dia 17 Mei 2019.

    Direktur Hukum dan Advokasi TKN Jokowi - Maruf, Ade Irfan Pulungan menyarankan acara buka puasa bersama Aksi 22 Mei itu sebaiknya dilakukan di Masjid Istiqlal atau kediaman Prabowo di Jalan Kartanegara, Jakarta Selatan.

    ROSSENO M. AJI | IRSYAN | FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.