Soal Laporan Allan Nairn dan Reaksi Kubu Prabowo

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo - Sandiaga berpelukan dalam debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, 13 April 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo - Sandiaga berpelukan dalam debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, 13 April 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn, merilis laporan terbaru tentang rencana Prabowo Subianto jika memenangi Pemelihan Presiden 2019. Laporan itu diunggah di situs pribadi miliknya yaitu allannairn.org pada Senin kemarin, 15 April 2019. Dalam laporannya, Allan menulis ada beberapa misi yang dilakukan Prabowo jika menang.

    Baca: Masa Tenang, Prabowo Hadiri Wisuda hingga Resmikan Masjid

    "Purnawirawan jenderal Prabowo Subianto telah membuat rencana untuk melakukan penangkapan massal terhadap lawan politik dan sekutunya saat ini," tulis Allan.

    Misi-misi itu ialah penangkapan orang-orang yang menjadi lawan politiknya, melemahkan dan menghancurkan kelompok-kelompok Islam seperti Front Pembela Islam, eksponen Hizbut Tahrir Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, juga Partai Demokrat. Kemudian menggagalkan gugatan terhadap Freeport Mcmoran, dan mengembalikan militerisme Orde Baru.

    Allan menyampaikan bahwa rencana itu diketahui dari notulensi pertemuan rapat tertutup di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara 4, Jakarta Selatan pada Jumat malam, 21 Desember 2018. Allan mengatakan notulensi merupakan data intelijen yang kini beredar di kalangan aparat.

    Ada sejumlah nama yang disebut turut dalam pertemuan itu, yakni Letnan Jenderal Tentara Nasional Indonesia (purn) Johannes Suryo Prabowo, Letjen TNI (purn) Yunus Yosfiah, Laksamana TNI (purn) Tedjo Edhy Purdijatno, Mayjen TNI (purn) Glenny Kairupan, Laksamana Madya TNI (purn) Moekhlas Sidik.

    Kemudian Mayjen TNI (purn) Judi Magio Jusuf, Mayjen TNI (purn) Arifin Seman, dan Mayjen TNI (purn) Musa Bangun. Ada pula tiga kader Gerindra yang disebut hadir, yakni Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono, dan Ketua DPP Gerindra Habiburokhman.

    Musa Bangun enggan berkomentar perihal informasi itu. "No comment, sumber enggak jelas," kata Musa kepada Tempo, Senin, 15 April 2019. Musa tak menjawab lebih lanjut. Glenny Kairupan, yang diketahui juga orang dekat Prabowo, hanya membaca pertanyaan Tempo terkait itu.

    Fadli Zon juga tak berkomentar banyak. Dia meminta informasi itu tak digubris. "Udahlah enggak usah didengerin, intel kampung itu," kata Fadli Zon. Fadli juga mengatakan pertemuan itu tak ada.

    Berdasarkan penelusuran di mesin pencari Google dan Twitter, Fadli berada di sejumlah kota di Jawa Tengah pada 21 Desember 2018. Pagi hari, Fadli terpantau mendatangi seorang simpatisan Prabowo di Semarang. Kemudian, dia berada di Karanganyar. Nah, 22 Desember 2018 pagi, Fadli sudah berada di Solo. 

    Bahkan, lewat Twitter pridbadinya, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengunggah foto ia bertemu dengan Fadli Zon di Adi Soemarmo Bandara Solo.

    Saat dikonfirmasi perihal keberadaan Fadli di Jawa Tengah ini, Allan mempertanyakan pukul berapa tepatnya Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu berada di Jawa Tengah. "Menurut dokumen dia tercatat sebagai salah satu yang hadir di pertemuan itu," kata Allan kepada Tempo, Selasa, 16 April 2019.

    Hanya Arief Poyuono yang bereaksi terhadap laporan Allan ini. Arief mengirimkan undangan kepada awak media agar meliput pelaporan Allan ke Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia siang ini. Dalam undangan tertulis pelapor ialah Masyarakat Demokrasi Indonesia Antihoaks yang dikoordinatori Pandapotan Lubis.

    Kendati begitu, Arief-lah yang sedari awal merespons laporan Allan Nairn. Arief juga menuding Allan menerima uang dari sebuah lembaga untuk menjalankan kampanye negatif terhadap Prabowo. Arief juga mengirim sebuah dokumen yang menyerupai bukti transfer melalui sebuah bank di Singapura.

    "Ini dia bukti transfer ke rekening Allan Nairn untuk membuat kampanye hitam dan fitnah kepada Prabowo," kata Arief kepada Tempo, Senin, 15 April 2019.

    Allan tertawa saat dikonfirmasi perihal ini. Dia mengatakan dokumen itu palsu. Allan juga mempersilakan hal tersebut dikonfirmasi langsung kepada pihak bank.

    "Mereka mencoba mengelabui. Itu palsu. Semua yang lihat bisa tahu kalau itu photoshop. Bahasa Inggrisnya juga tidak bener," kata Allan.

    Dalam dokumen bukti transfer yang disebarkan Arief itu, terdapat tulisan tangan berupa pesan, tanda tangan, dan inisial AMY. Memang terdapat beberapa kesalahan ejaan dalam pesan tersebut.

    "Allan....we have transfred you funds for neutelaling Prabowo movement in Indonesia presidential eletion."

    Secara logika, kalimat yang dimaksud barangkali,"Allan, we have transferred you funds for neutralizing Prabowo movement in Indonesia presidential election."

    Allan tak khawatir ihwal adanya pihak yang berencana melaporkan dirinya ke polisi. Dia mengatakan akan dengan senang hati menghadapi Prabowo Subianto di pengadilan.

    "Saya akan menggunakan forum itu bicara tentang kesalahan Prabowo, pembantaian di Timor Leste, Papua, penculikan aktivis 1998, dan saya akan bicara soal apa yang dia kerjakan untuk pemerintah dan intelijen AS," kata Allan.

    Simak juga: Bertemu Prabowo Subianto, Adik Ahok: Pemimpin Berhati Besar

    Allan mengatakan tak cuma Prabowo yang menurutnya harus dibawa ke pengadilan atas pelanggaran HAM berat masa lalu. Purnawirawan lain seperti Wiranto dan Hendropriyono, kemudian presiden dan jenderal-jenderal negara Abang Sam yang diduga terlibat kala itu, kata dia, juga harus diadili.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.