PSI Serang Partai Nasionalis yang Dukung Perda Syariah

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie beserta rombongan menyerahkan daftar nama calon legislatif (caleg) ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa, 17 Juli 2018. Partai Solidaritas Indonesia sudah menyerahkan bacaleg dengan 575 nama untuk 80 daerah pemilihan (dapil). TEMPO/Subekti.

    Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie beserta rombongan menyerahkan daftar nama calon legislatif (caleg) ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa, 17 Juli 2018. Partai Solidaritas Indonesia sudah menyerahkan bacaleg dengan 575 nama untuk 80 daerah pemilihan (dapil). TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pidato Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia atau PSI Grace Natalie dalam acara Festival 11 di Medan, Senin 11 Maret 2019 menyerang sikap partai yang berlabel nasionalis di Indonesia. Dalam pidatonya, Grace menyinggung banyak partai yang mengaku nasionalis namun justru mendukung peraturan daerah (Perda) syariah yang diskriminatif.

    Baca juga: Sejarah dan Isi SKB Tempat Ibadah yang Ditolak Grace Natalie

    "Bagaimana mungkin disebut partai Nasionalis, kalau diam-diam menjadi pendukung terbesar Perda Syariah?," kata Grace yang dikutip dari pidatonya yang diunggah dalam laman resmi PSI pada Senin, 11 Maret 2019.

    Dalam pidato itu, Grace bahkan mengutip hasil studi Michael Buehler dalam bukunya yang berjudul “The Politics of Shari’a Law: Islamist Activists and the State in Democratizing Indonesia” yang terbit pada 2016. Menurut Grace, Buehler merupakan guru besar ilmu politik di Nothern Illinois University.

    Menurut Grace, hasil penelitian Buehler menyimpulkan bahwa partai yang mengaku berlabel nasionalis seperti PDI Perjuangan dan Golkar terlibat aktif dalam merancang, mengesahkan, dan menerapkan Perda-perda Syariah di seluruh Indonesia. Tak hanya, Buehler, Grace juga mengutip hasil penelitian Robin Bush yang menurut dia menyimpulkan hal yang sama.

    "Ini bukan saya lho yang bilang. Saya hanya membacakan kesimpulan riset ilmiah," kata Grace.

    Selain itu, Grace juga mempertanyakan mengenai sikap partai-partai nasionalis yang tinggal diam ketika banyak kasus diskriminasi. Mulai dari kasus yang dianggap penistaan agama seperti kasus Ibu Meliana, tiga gereja disegel di Jambi, persekusi atas jemaat GBI Philadelpia, hingga kasus nisan kayu salib dipotong dan prosesi doa kematian seorang warga Katolik ditolak massa di Yogyakarta.

    Mantan presenter ini juga mempersoalkan adanya partai nasionalis yang ikut mengambil inisiatif meloloskan RUU Pesantren dan Pendidikan Agama. Dia mengatakan, dirinya dan PSI tidak keberatan soal pengaturan pesantren. Tetapi dia mempersoalkan rancangan ini karena berpotensi membatasi sekolah minggu, yang selama ini diatur secara otonom oleh gereja.

    Baca juga: Video Es Teh Manis PSI, Grace Natalie Sindir Sandiaga Uno

    "Lolosnya RUU ini melukai rasa keadilan umat Kristiani. Saya jadi bertanya-tanya: kenapa partai nasionalis dan Islam moderat abai dan tega meloloskan rancangan ini?," tutur Grace.

    PSI sebenarnya tidak perlu berdiri jika tugas dan peran partai nasionalis dijalankan dengan baik. Karena itu, dalam kondisi kekecewaan itulah, kata Grace, yang menyebabkan PSI harus hadir. Sebab jika hanya mengandalkan partai nasionalis persoalan diskriminasi, korupsi hingga fasisme akan terus hadir di Indonesia.

    Tonton Soal Pengesahan Perda Syariah, Grace Natalie Sindir PDIP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.