Moeldoko: Jangan Cari Popularitas dengan Melawan TNI

Reporter

Editor

Juli Hantoro

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Deputi V KSP Jaleswari Pramowardani berbincang dengan media di Gedung Bina Graha, Jakarta, 8 Maret 2019. TEMPO/Friski Riana

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta semua pihak untuk tidak mencari popularitas dengan melawan TNI. "Jangan lah rekan-rekan sekalian, para pegiat apapun namanya itu, jangan cari gara-gara dengan TNI, enggak usah, jangan mencari popularitas melawan TNI. Jangan. TNI milik kita semua," kata Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, Jumat, 8 Maret 2019.

Baca juga: Kontak Senjata di Papua, 3 Prajurit TNI Gugur

Moeldoko mengatakan TNI pada 1998 memang dianggap sebagai musuh bersama. Tapi kini, kata dia, TNI sudah hidup berdampingan dengan baik bersama masyarakat. TNI juga terbuka terhadap kritik. "Tapi jangan merusak psikologi prajurit. Psikologi prajurit kita sudah baik, jangan dilukai dengan hal-hal itu. Nyanyian masa lalu sudah lah masa lalu, jangan masa lalu dibawa sekarang," katanya.

Moeldoko menentang para pihak yang menganggap TNI seperti di masa lalu. Sebab, ia mengaku telah bekerja keras memperbaiki situasi agar TNI berubah lebih baik. Mantan Panglima TNI itu juga memastikan tidak akan ada dwifungsi ABRI.

Negara juga memberikan kebebasan berekspresi seluas-luasnya kepada siapapun. Namun, Moeldoko meminta harus ada perbedaan kebebasan berekspresi yang cenderung melanggar undang-undang atau yang bersifat kritik membangun. "Kalau sifatnya kritik membangun, Presiden dengan sangat terbuka, KSP membuka seluas-luasnya, silakan ngomong apa saja kita dengarkan, tidak ada kita alergi dan membatasi cara berekspresi," ujarnya.

Moeldoko mengatakan itu menanggapi kabar penangkapan aktivis dan akademisi Robertus Robet pada Rabu malam lalu.

Robet kemudian ditetapkan sebagai tersangka setelah videonya yang menyanyikan Mars ABRI viral di acara Kamisan viral di media sosial. Ia dituduh menghina insitusi TNI. Padahal, Robet mengatakan aksinya dalam video bukan bermaksud mengkritik atau menghina TNI.

Baca juga: Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Nduga Disemayamkan di Mimika

"Lagu itu dimaksudkan sebagai kritik saya terhadap ABRI di masa lampau, bukan terhadap TNI di masa kini. Apalagi dimaksudkan untuk menghina profesi, organisasi, institusi TNI," ujar Robet saat dihubungi Tempo, Rabu, 6 Maret 2019.

Robet menjelaskan sebagai dosen, dia tahu persis upaya-upaya reformasi yang telah dilaksanakan oleh TNI selama ini. Menurut dia, TNI menjadi institusi yang lebih maju dibanding lainnya terkait upaya reformasi. "Dalam banyak hal saya justru memuji dan memberikan apresiasi upaya-upaya reformasi TNI," kata dia.






Kebutuhan Riset Sorgum, Moeldoko: Peralatan di Kampus Ketinggalan Zaman

21 jam lalu

Kebutuhan Riset Sorgum, Moeldoko: Peralatan di Kampus Ketinggalan Zaman

Moeldoko mengatakannya usai memberikan kuliah umum yang membuka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru di UNS Solo.


Kasus Paspampres Pukul Sopir Truk, Moeldoko: Perlu Penguatan Displin Prajurit

1 hari lalu

Kasus Paspampres Pukul Sopir Truk, Moeldoko: Perlu Penguatan Displin Prajurit

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko ikut menyoroti kasus pemukulan anggota Paspampres kepada seorang sopir truk dan dua kernetnya, yang terjadi di Kota Solo.


Moeldoko Beberkan Lokasi yang Cocok untuk Penanaman Sorgum: Sulawesi hingga NTT

1 hari lalu

Moeldoko Beberkan Lokasi yang Cocok untuk Penanaman Sorgum: Sulawesi hingga NTT

Menurut Moeldoko, pembudidayaan sorgum penting dilakukan untuk mengantisipasi krisis pangan menyusul kondisi ketidakpastian global saat ini.


Moeldoko Sebut Sorgum Sumber Pangan Masa Depan

2 hari lalu

Moeldoko Sebut Sorgum Sumber Pangan Masa Depan

Moeldoko mengatakan sorgum sebagai sumber pangan masa depan karena dapat diolah menjadi berbagai macam produk dengan rasa lezat.


Polres Bogor Ungkap Motif Pembunuhan Bendahara KONI oleh Anggota TNI AU

2 hari lalu

Polres Bogor Ungkap Motif Pembunuhan Bendahara KONI oleh Anggota TNI AU

Satreskrim Polres Bogor membongkar motif pembunuhan Bendahara KONI yang didalangi oleh anggota TNI AU.


Moeldoko Ingatkan Lembaga Penyiaran Publik Suarakan Kinerja Pemerintah

3 hari lalu

Moeldoko Ingatkan Lembaga Penyiaran Publik Suarakan Kinerja Pemerintah

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai sekarang ruang publik dipenuhi oleh isu negatif, disinformasi, dan berita bohong.


Jokowi Tolak Usul Luhut Soal Penempatan Militer Aktif di Kementerian

3 hari lalu

Jokowi Tolak Usul Luhut Soal Penempatan Militer Aktif di Kementerian

Presiden Jokowi menolak usul Menko Marinvest Luhut Binsar Pandjaitan soal penempatan TNI di kementerian dan lembaga negara. Belum mendesak.


RUU Perlindungan PRT Mandek di DPR, KSP Bentuk Gugus Tugas

5 hari lalu

RUU Perlindungan PRT Mandek di DPR, KSP Bentuk Gugus Tugas

Pembentukan gugus tugas ini untuk mendorong pembahasan RUU Perlindungan PRT di DPR yang mandek selama hampir dua dekade.


KontraS: Wacana TNI Menjabat di Kementerian Mengkhianati Reformasi

6 hari lalu

KontraS: Wacana TNI Menjabat di Kementerian Mengkhianati Reformasi

KontraS menilai wacana yang dilontarkan Luhut Binsar Pandjaitan problematis, sebab kontraproduktif terhadap semangat profesionalisme militer.


Kata Moeldoko soal 25 Polisi Tak Profesional di Penanganan Kasus Brigadir J

6 hari lalu

Kata Moeldoko soal 25 Polisi Tak Profesional di Penanganan Kasus Brigadir J

Moeldoko mengatakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit telah mempedomani perintah Presiden Jokowi dalam penanganan kasus Brigadir J.