Untuk Kedua Kali dalam Sepekan, Gempa Guncang Kabupaten Malang

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gempa. shutterstock.com

    Ilustrasi gempa. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Gempa bermagnitudo 5,9 mengguncang perairan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa, 19 Februari 2019 pukul 02.30 WIB. Badan Meteorologi dan Klimatologi menyatakan pusat gempa berada di laut 159 kilometer arah tenggara Kabupaten Malang.

     

    Lokasi gempa berada pada koordinat 9.68 Lintang Selatan dan 113.79 Bujur Timur. "Kedalaman 10 km," seperti dikutip dari laman Twitter @infoBMKG, Selasa.

    BMKG menyatakan gempa tersebut dirasakan di Kabupaten Malang, Lumajang, Karangkates, Blitar dan Sawahan. Selain itu, gempa juga dirasakan di Kuta dan Nusa Dua Bali.

    Ini adalah gempa kedua di wilayah Kabupaten Malang dalam sepekan terakhir. Pada Kami, 14/02, pekan lalu gempa tektonik juga mengguncang Kabupaten Malang pada pukul 02.58 WIB itu bermagnitudo 5,0. BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.

    Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono saat itu mengatakan wilayah Samudera Hindia selatan Jawa diguncang gempa bumi tektonik. Hasil pemutakhiran analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki kekuatan M=5,0.

    Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,35 LS dan 112,51 BT. "Tepatnya berlokasi di laut pada jarak 134 kilometer arah selatan Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur," katanya. Sumber gempa berkedalaman 69 kilometer.

    Gempa di selatan di Jawa-Bali-Nusa Tenggara ini tergolong berkedalaman menengah. "Diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia," kata Rahmat.

    Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar Obliqe Naik (Oblique Thurst Fault).

    ANWAR SISWADI

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.