Banjir di Sulawesi Selatan, Korban Tewas Bertambah Jadi 26 orang

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim relawan mengevakuasi warga korban banjir di Kelurahan Paccerakkang, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa 22 Januari 2019. Akibat hujan deras disertai angin kencang, sejumlah wilayah di Kota Makassar terendam banjir. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang

    Tim relawan mengevakuasi warga korban banjir di Kelurahan Paccerakkang, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa 22 Januari 2019. Akibat hujan deras disertai angin kencang, sejumlah wilayah di Kota Makassar terendam banjir. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang

    TEMPO.CO, Makassar - Korban banjir dan tanah longsor di 10 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan terus bertambah. Hingga Kamis pagi 24 Januari 2019, korban banjir dan longsor yang meninggal dunia telah mencapai 26 orang. "Tim evakuasi dari TNI-Polri, Basarnas, dan Tagana masih terus mencari korban," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel Syamsibar kepada Tempo, Kamis pagi, 24 Januari 2019.

    Di Kabupaten Gowa, 12 orang masih hilang, 12 meninggal, 45 orang sakit, dan 2.121 jiwa mengungsi. Di Jeneponto jumlah korban hilang ada tiga orang dan 10 meninggal. Di Maros empat orang meninggal dan 200 jiwa mengungsi. Sedangkan di Kabupaten Pangkep satu orang hilang. "Kami terus berkoordinasi dengan Bupati Gowa dan masyarakat," ujar dia.

    Baca: Banjir di Sulawesi Selatan, Wakil Gubernur: 10 Orang Meninggal

    Total korban sementara yang tercatat sebanyak 3.914 keluarga, 5.825 jiwa, hilang 24 orang, dan sakit 24 orang. Sebanyak 2.024 rumah terendam air, lima rumah tertimbun tanah longsor, dan sejumlah fasilitas pemerintah serta sembilan jembatan rusak.

    Angka itu catatan jumlah korban banjir di Sulawesi Selatan, di antaranya Kota Makassar, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Barru. Kabupaten Wajo, Bantaeng, dan Kabupaten Sidrap. "Alhamdulillah intensitas hujan mulai turun tidak seperti kemarin."

    Baca: Sebagian Daerah di Sulawesi Selatan Dilanda Banjir

    Intensitas hujan yang menurun berdampak pada ketinggian permukaan air waduk. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, Teuku Iskandar mengungkapkan status ketinggian air waduk di Bili-bili Kabupaten Gowa telah turun di bawah normal.

    Saat ini tinggi permukaan air +99.45 vol, waduk sekitar 248.59 m3 dan inflow sekitar 246.66m3 per detik dan outflow sekitar 246.70 per detik. "Tinggi bukaan pintu juga kami kurangi menjadi 2.0 meter," kata Iskandar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.