Saat Anak-anak Korban Tsunami Banten Jalani Trauma Healing

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak korban bencana Tsunami Selat Sunda melakukan senam saat mengikuti Trauma Healing di pengungsian Labuan, Pandeglang, Banten, 31 Desember 2018. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai trauma healing untuk menghilangkan ketakutan atau trauma akibat bencana Tsunami Selat Sunda. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Anak-anak korban bencana Tsunami Selat Sunda melakukan senam saat mengikuti Trauma Healing di pengungsian Labuan, Pandeglang, Banten, 31 Desember 2018. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai trauma healing untuk menghilangkan ketakutan atau trauma akibat bencana Tsunami Selat Sunda. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Pandeglang - Upaya pemulihan psikologis korban tsunami Banten dan Lampung terus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun relawan. Tak terkecuali bagi pengungsi anak-anak yang ikut terdampak tsunami tersebut.

    Upaya pemulihan psikologis atau biasa disebut trauma healing bagi anak-anak salah satunya dilakukan di Posko Penanggulangan Bencana Alam Kementerian Sosial Republik Indonesia, di lapangan futsal, Kampung Palumpang, Desa Rancaterep, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten.

    Baca: Rumah Sementara Korban Tsunami akan Dibangun di Pandeglang

    Nandan, 12 tahun sedang asyik menggambar garis melengkung di selembar kertas kuning memakai spidol hitam saat Tempo mengunjungi pengungsian itu pada Senin, 31 Desember 2018. Dia bilang itu gambar bukit. Di bawah bukit itu, Nandan menggambar jalan raya.

    Tak ada raut wajah tegang saat dia mengakhiri gambarnya dengan pantai di sisi bawah jalan raya. "Saya enggak takut pantai," kata bocah asal Kampung Labak, Labuan, Banten tersebut.

    Nandan merupakan satu dari ratusan anak yang mengungsi di lapangan futsal itu sejak tsunami menerjang pesisir Banten pada Sabtu, 22 Desember 2018. Rumah Nandan, di Kampung Labak, Labuan, Banten juga ikut terdampak. Beruntung keluarganya selamat dalam musibah itu.

    Baca: Pengungsi Tsunami di Perbukitan Banten Kekurangan Selimut

    Selain Nandan, di tempat pengungsian tersebut ada 1.432 jiwa yang mengungsi. Sebanyak 349 orang di antaranya berusia balita dan anak-anak.
    Koordinator Layanan Dukungan Psikososial, Taruna Tanggap Bencana, Labuan, Banten, Siti Nurdjanah mengatakan layanan dukungan psikososial dilakukan di pengungsian itu setiap sejak 24 Desember 2018. Kegiatan dukungan psikologis setiap hari dilakukan pada pukul 08.00 hingga 10.00.

    Kegiatan pemulihan psikologis, kata dia, pada dasarnya membuat anak-anak sibuk dengan bermain, menggambar dan bernyanyi agar melupakan kejadian pilu kemarin serta tidak bosan selama di pengungsian. Pemberian makanan ringan dan susu di akhir acara juga menjadi bagian penting untuk menjaga asupan nutrisi buat anak-anak. "Kalau anak-anak justru lebih mudah pulih," kata dia

    Siti mengatakan saban hari, pihaknya menerima relawan yang ingin membantu menghibur anak-anak. Seperti hari ini, pengungsian itu kedatangan relawan dari Kampung Dongeng Indonesia.

    Relawan Kampung Dongeng Yuyun Yunengsih mengatakan komunitasnya sudah berkeliling kawasan terdampak tsunami Banten untuk memulihkan kondisi psikologis anak akibat bencana. "Kami lakukan dengan kegiatan mendongeng, menggambar dan bernyanyi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.