Kemendagri Terbitkan Akta Kematian Korban Tsunami Selat Sunda

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi bencana tsunami bertahan di sebuah lapangan fulsal yang dijadikan posko pengungsian Kemensos di Labuan, Pandeglang, Banten, Selasa, 25 Desember 2018. Selain ISPA, penyakit lainnya yang ditangani tim kesehatan adalah hipertensi, peradangan lambung, sakit kepala dan lain-lain. TEMPO/Subekti.

    Pengungsi bencana tsunami bertahan di sebuah lapangan fulsal yang dijadikan posko pengungsian Kemensos di Labuan, Pandeglang, Banten, Selasa, 25 Desember 2018. Selain ISPA, penyakit lainnya yang ditangani tim kesehatan adalah hipertensi, peradangan lambung, sakit kepala dan lain-lain. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menerjunkan tim ke lokasi bencana tsunami Selat Sunda untuk mengidentifikasi korban sekaligus membantu menerbitkan dokumen korban yang hilang. “Tim Dukcapil akan menerbitkan akta kematian untuk setiap korban yang telah teridentifikasi.”  Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Bahtiar menyampaikannya dalam siaran tertulis yang diterima Tempo, Selasa, 25 Desember 2018.

    Tim Dukcapil akan membuka posko di tiga lokasi, yaitu di Serang, Pandeglang, dan Lampung Selatan. Untuk keperluan itu, tim akan berkoordinasi dengan Tim Disaster Victim Identification (DVI) dan Inafis Polri, serta pemerintah daerah setempat.

    Baca: Akses Sulit ke Sumur Setelah Tsunami, Begini ...

    “Penerbitan akte kematian bagi korban meninggal yang telah teridentifikasi sebagai wujud kehadiran pemerintah di tengah masyarakat." Bahtiar berharap layanan kementerian akan sedikit meringankan beban masyarakat yang terkena bencana tsunami.

    Bencana tsunami melanda pesisir pantai Banten dan Lampung, pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Tsunami ditengarai terjadi karena aktivitas Gunung Anak Krakatau. Erupsi mengakibatkan gelombang arus pasang naik dan kaki Gunung Anak Krakatau yang longsor.

    Baca: Jenazah Korban Tsunami Selat Sunda ...

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat akibat tsunami hingga Senin kemarin, 24 Desember 2018 pukul 17.00, tercatat 373 orang meninggal dunia, 1.459 orang luka-luka, 128 orang hilang, dan 5.665 orang mengungsi. Kerugian fisik akibat tsunami meliputi 681 unit rumah rusak, 69 unit hotel dan villa rusak, 420 unit perahu dan kapal rusak, 60 unit warung dan toko rusak, dan puluhan kendaraan rusak.
     
    Juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan tim SAR gabungan terus menyisir, mencari dan menyelamatkan korban bencana di sepanjang daerah terdampak tsunami Selat Sunda. Beberapa daerah yang sebelumnya sulit dijangkau karena akses jalan rusak dan tertutup oleh material hanyutan tsunami, sebagian sudah dapat dijangkau petugas beserta kendaraan dan alat berat. “Hal ini menyebabkan korban terus ditemukan oleh petugas tim SAR gabungan," kata Sutopo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.