Mantan Guru Komentari Kasus Penganiayaan oleh Bahar bin Smith

Bahar bin Ali bin Smith (kanan) keluar dari kendaraannya untuk menjalani pemeriksaan perdana di Direktorat Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Bandung, Selasa, 18 Desember 2018. Saat ini Bahar Smith sudah ditetapkan sebagai tersangka tunggal dalam kasus yang berbeda. ANTARA/Raisan Al Farisi

TEMPO.CO, Pasuruan–Tersangka kasus penganiayaan anak, Bahar bin Smith, diketahui pernah  menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah (Dalwa) di Jalan Raya Raci, Desa Raci, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Mengenai bekas santri Dalwa yang bermasalah seperti Bahar, menurut salah satu anggota Dewan Guru Dalwa, hal itu sudah di luar tanggung jawab lembaga. Ia pun mengibaratkan bekas santri Dalwa seperti telur asin yang diolah dari telur bebek, ada yang bagus atau lezat dan ada yang jelek atau busuk.

Baca: Tetangga Mengira Korban Penganiyaan Bahar bin Smith Kecelakaan

“Dalwa sama dengan dengan bebek, telurnya warna biru telur asin (bagus). Kalau ada telur asin coklat (jelek) itu sudah diolah orang lain,” kata anggota Dewan Guru Dalwa yang tidak ingin namanya disebut saat dikonfirmasi, Jum’at, 21 Desember 2018.

Jika ada bekas santri yang berperilaku buruk, menurutnya, kemungkinan besar sudah terpengaruh lingkungan atau kelompok tertentu. Filosofi bagusnya warna biru telur asin itu, menurutnya, sama dengan filosofi warna biru telur asin yang menghiasai warna dominan dari bangunan pesantren Dalwa. “Dalwa itu khan warnaya biru telur asin,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Dalwa Habib Ali Zainal Abidin membenarkan Bahar pernah mondok di Dalwa. “Memang pernah di Dalwa saat masih kecil. Setelah dari Dalwa mungkin ke tempat lain. Di Dalwa hanya sekitar 2-3 tahun sekolah tingkat Madrasah Ibtidaiyah,” kata ulama yang akrab disapa Habib Zain ini.

Simak: Kenapa Kasus Bahar bin Smith Kriminal Murni, Bukan Kriminalisasi?

Zain tidak ingin menanggapi kasus yang menimpa Bahar. “Ana (saya) sementara sibuk di pendidikan, tidak mengikuti (kasusnya),” katanya. Zain juga menegaskan Dalwa tidak terkait dengan kepentingan politik apapun. “Disini tidak ada politik, tidak ingin terjebak konflik-konflik. Kita hanya fokus mengajar membantu pemerintah, polres, dan bekerjasama dengan semuanya. Kita fokus pada pendidikan."

Dalwa dirintis oleh ayah Zain, Habib Hasan bin Ahmad Baharun, ulama asal Sumenep, Madura. Aktivitas pesantren dimulai  1981 dengan menyewa rumah di Bangil, Pasuruan. Pada 1985 atas dukungan ulama Mekkah, Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, Hasan mendirikan pesantren di Desa Raci.

Dari tahun ke tahun santri Dalwa bertambah dan kini mencapai ribuan. “Jumlah santri sekarang sekitar 9.000 orang baik putra dan putri,” kata Zain.

Melihat riwayat sejarah pondok setempat, memang sama sekali tidak berafiliasi dengan organisasi radikal. Bahkan  almarhum Habib Hasan Baharun, pernah jadi juru kampanye Partai Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan Habib Hasan pernah jadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pasuruan hingga wafat 1999.






Polres Karawang Periksa Pejabat Pemkab yang Diduga Aniaya Wartawan

2 hari lalu

Polres Karawang Periksa Pejabat Pemkab yang Diduga Aniaya Wartawan

Dua orang wartawan diduga dianiaya dan disekap oleh pejabat di Pemerintahan Kabupaten Karawang


Pimpinan DPRD Depok yang Injak Sopir Truk tetap Terancam Sanksi Meski Sudah Damai

2 hari lalu

Pimpinan DPRD Depok yang Injak Sopir Truk tetap Terancam Sanksi Meski Sudah Damai

Wakil Ketua DPRD Kota Depok Tajudin Tabri tetap terancam sanksi dari Partai Golkar setelah aksinya menginjak sopir truk viral


Polres Karawang Usut Dugaan Penganiayaan terhadap Dua Wartawan oleh Pejabat Pemkab

9 hari lalu

Polres Karawang Usut Dugaan Penganiayaan terhadap Dua Wartawan oleh Pejabat Pemkab

Aldi memastikan pihaknya akan mengusut tuntas kasus dugaan penculikan dan penganiayaan yang dialami dua wartawan oleh pejabat Kabupaten Karawang


Kasus Penganiayaan Sopir Taksi Online di Koja, Tersangka Sudah Bawa Celurit dari Cinere

13 hari lalu

Kasus Penganiayaan Sopir Taksi Online di Koja, Tersangka Sudah Bawa Celurit dari Cinere

Tersangka penganiayaan, yang masih berusia 17 tahun, berdalih sedang mencari pekerjaan ke Jakarta namun kehabisan uang sehingga tak bisa bayar taksi.


Mayat Pria Ditemukan Mengambang di Kali Mookevart, Polisi: Tak Ada Tanda Penganiayaan

14 hari lalu

Mayat Pria Ditemukan Mengambang di Kali Mookevart, Polisi: Tak Ada Tanda Penganiayaan

Kapolsek Cengkareng menduga pria tersebut sudah meninggal sejak sehari yang lalu karena kondisi mayat pria itu sudah mengalami pembengkakan.


Remaja 17 Tahun Aniaya Sopir Taksi Online Karena Tak Punya Uang untuk Bayar Ongkos Taksi

15 hari lalu

Remaja 17 Tahun Aniaya Sopir Taksi Online Karena Tak Punya Uang untuk Bayar Ongkos Taksi

Remaja tersebut tidak mengambil uang atau barang dari sopir taksi online yang ia lukai. Mengaku ingin mencari kerja tapi kehabisan uang.


Polres Ponorogo Gelar Rekonstruksi Kasus Tewasnya Santri Gontor

15 hari lalu

Polres Ponorogo Gelar Rekonstruksi Kasus Tewasnya Santri Gontor

Polres Ponorogo menggelar rekonstruksi kasus dugaan penganiayaan di Pondok Modern Darussalam Gontor yang mengakibatkan salah satu santri tewas


Tawuran Maut Pelajar di Depok Sebabkan Satu Tewas, Polisi: Ngakunya Korban Begal

15 hari lalu

Tawuran Maut Pelajar di Depok Sebabkan Satu Tewas, Polisi: Ngakunya Korban Begal

Tawuran maut antar kelompok pelajar di Kota Depok kembali terjadi, akibatnya seorang pelajar berinisial AZS (20) meninggal dunia terkena sabetan celurit.


Suami Aniaya Istri Hingga Tewas di Tangerang, Lalu Menyerahkan Diri ke Polsek Ciledug

16 hari lalu

Suami Aniaya Istri Hingga Tewas di Tangerang, Lalu Menyerahkan Diri ke Polsek Ciledug

Seorang suami aniaya istrinya hingga tewas di rumahnya, setelah itu ia menyerahkan diri ke Polsek Ciledug Tangerang.


Wali Santri Gontor Korban Penganiayaan Ingin Peluk Para Pelaku

17 hari lalu

Wali Santri Gontor Korban Penganiayaan Ingin Peluk Para Pelaku

Polisi telah menetapkan dua tersangka dalam kasus kematian santri Gontor.