Moeldoko Minta Penembakan di Papua Tak Dikaitkan dengan HUT OPM

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani menyampaikan sikap pemerintah terkait insiden pembunuhan pekerja proyek jembatan di Nduga, Papua. Konferensi pers dilakukan di Gedung Bina Graha, Jakarta, 5 Desember 2018. Biro Humas KSP

    Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani menyampaikan sikap pemerintah terkait insiden pembunuhan pekerja proyek jembatan di Nduga, Papua. Konferensi pers dilakukan di Gedung Bina Graha, Jakarta, 5 Desember 2018. Biro Humas KSP

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta insiden pembunuhan puluhan pekerja proyek di Kabupaten Nduga, Papua tidak dikaitkan dengan perayaan 1 Desember.

    "Ada yang mempersepsikan seperti itu. Tapi saya juga berharap tidak mengkait-kaitkan," kata Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, Rabu, 5 Desember 2018.

    Baca: Keluarga Korban Penembakan di Papua Datangi Kodim Jayawijaya

    Moeldoko mengatakan inti peristiwa yang saat ini terjadi adalah pembunuhan terhadap 31 warga sipil. Ia tidak ingin kasus itu dikaitkan dengan perayaan 1 Desember yang merupakan hari ulang tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM). "Yang sangat penting, 31 nyawa sipil melayang. Ini sebuah peristiwa besar yang tidak boleh dibelokin karena menjelang 1 Desember. Tidak," kata dia.

    Saat HUT OPM pada 1 Desember lalu, sekitar 300 anggota Alinasi Mahasiswa Papua di Surabaya melakukan unjuk rasa. Mahasiswa berorasi di depan Studio Radio Republik Indonesia, Jalan Pemuda, Surabaya. Dalam orasinya, mahasiswa beratribut bendera Bintang Kejora menuntut agar rakyat Papua Barat diberi hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokrasi. Mereka juga menuntut Papua Merdeka.

    Di hari yang sama, para pekerja proyek jembatan di Kabupaten Nduga disandera kelompok bersenjata. Kepala Dinas Penerangan Daerah Militer XVII/Cenderawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi mengatakan informasi itu berdasarkan keterangan seorang korban selamat, karyawan PT Istaka Karya, Jimmy Aritonang.

    Baca: Pembunuhan di Papua, Jokowi: Kejar dan Tangkap Seluruh Pelaku

    Menurut keterangan Jimmy, kata Aidi, seluruh karyawan PT Istaka Karya memutuskan tidak bekerja. Sebab, ketika itu ada peringatan hari kemerdekaan kelompok bersenjata. "Ada upacara peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan KKSB dan dimeriahkan dengan upacara bakar batu bersama masyarakat," kata Aidi.

    Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, kelompok bersenjata mendatangi kamp PT Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan berjumlah 25 orang untuk keluar. Mereka digiring menuju Kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat.

    Keesokan harinya, Ahad, 2 Desember 2018, pukul 07.00 WIT, para pekerja dibawa berjalan menuju bukit puncah Kabo. Di tengah jalan, para pekerja disuruh berjalan jongkok dengan formasi lima shaf. Tak lama kemudian, kata Aidi, kelompok bersenjata menembaki mereka.

    Dari keterangan Jimmy, sebagian karyawan yang ditembaki tewas di tempat dan sebagian lagi terkapar berpura-pura mati. Setelah kelompok bersenjata meninggalkan para korban, 11 pekerja yang masih hidup mencoba melarikan diri. Namun, lima orang tertangkap kelompok bersenjata kemudian digorok hingga meninggal di tempat. Sedangkan 6 orang berhasil kabur ke arah Distrik Mbua. Empat orang di antaranya diamankan anggota TNI di Pos Batalyon Infanteri 775/Yalet. Namun dua orang lain hingga saat ini belum ditemukan.

    Baca: Kronologi Pembunuhan di Papua, Pekerja Disandera Sejak Sabtu Sore


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.