MPR Gelorakan Empat Pilar kepada Pujakesuma Kotapinang

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sosialisasi Empat Pilar MPR melalui pagelaran seni budaya wayang kulit pada Sabtu malam, 24 November 2018, di lapangan Pinang Awan Desa Aek Batu, Kecamatan Torgamba, Kotapinang.

    Sosialisasi Empat Pilar MPR melalui pagelaran seni budaya wayang kulit pada Sabtu malam, 24 November 2018, di lapangan Pinang Awan Desa Aek Batu, Kecamatan Torgamba, Kotapinang.

    INFO NASIONAL -  Masyarakat keturunan Jawa yang tergabung dalam Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera) di Kotapinang dan sekitarnya, sangat antusias mendatangi lapangan Desa Aek Batu yang berada di Jalan Lintas Sumut – Riau, di kota yang menjadi pusat Pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) untuk menyaksikan sebuah pertunjukan wayang.

    Di kota yang pernah menjadi ibu kota pada masa Kesultanan Pinang Awan itulah, MPR menggelar sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) melalui pagelaran seni budaya wayang kulit dengan lakon “Wahyu Satrio Piningit” yang didalangi Ki Giman Guno Prenggo Stoto dari Kisaran, pada Sabtu malam, 24 November 2018, di lapangan Pinang Awan Desa Aek Batu, Kecamatan Torgamba, Kotapinang.

    Rambe Kamarul Zaman, mewakili Pimpinan MPR RI, dalam sambutannya mengatakan, sosialisasi yang dilaksanakan MPR di seluruh Tanah Air melalui seni budaya ini mengandung kearifan lokal. Dia berharap, para generasi bangsa dapat bergotong royong melestarikan Seno budaya Indonesia. Hal itu merupakan penjabaran dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, dan menjadikannya landasan untuk menjaga persatuan.

    Di hadapan ratusan warga Pujakesuma Labuanbatu Selatan, anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar ini mengatakan, meskipun letaknya yang jauh dari ibu kota provinsi, Tapi tidak menyurutkannya melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di daerah ini. Dirinya senang karena masyarakat antusias melihat pertunjukan wayang kulit sambil mendengar pesan-pesan Empat Pilar. “Ini menandakan masyarakat di sini menyukai wayang kulit,” ujar Rambe.

    Dengan adanya acara ini, Rambe berharap masyarakat terhibur dan mengikuti serta meneladani pesan-pesan yang disampaikan dalang Ki Giman Guno Prenggo Stoto dalam pagelaran wayang kulit dengan lakon “Wahyu Satrio Piningit” ini, Taurus untuk menjaga serta menguatkan keutuhan NKRI.

    Usai menyampaikan sambutan sekaligus membuka pagelaran, Rambe Kamarul Zaman secara simbolik meyerahkan tokoh wayang dalam lakon “Wahyu Satrio Piningit” itu kepada sang dalang Ki Giman Guno Prenggo Stoto dari Kisaran. “Penyerahan tokoh wayang ini sebagai tanda pagelaran dimulai," ujarnya yang disambut tepuk tangan para penonton.

    Hadir pada acara tersebut Wakil Ketua DPRD Kabupaten Labuhanbatu Selatan Khairul Harahap, Kepala Bagian Pengelola Data dan Sistem Informasi Setjen MPR RI Andrianto, Ketua Pujakesuma Labuanbatu Selatan Salamun, serta Camat Torgamba, Kapolsek, dan para Kepala Desa.

    Sekretariat Jenderal MPR RI sebagai Panitia Pelaksana Pegelaran Wayang Kulit dalam laporannya yang disampaikan oleh Andrianto menyatakan, bahwa acara ini dalam rangka reaktualisasi dan internalisasi pemahaman terhadap Empat Pilar MPR RI kepada masyarakat.

    Pemahaman akan esensi Empat Pilar akan menjadi pondasi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "MPR sudah melaksanakan berbagai metode seperti ToT, LCC, diskusi, seminar, di hampir seluruh daerah. Metode sosialisasi melalui pentas seni budaya daerah ini adalah salah satu bentuk apresiasi MPR RI dalam upaya melestarikan warisan budaya tradisional, khususnya seni budaya wayang kulit yang telah menjadi kekayaan intelektual bangsa Indonesia," ujar Andrianto.

    Sementara Ketua DPRD Kabupaten Labuhanbatu Selatan Khairul Harahap dalam sambutannya mengatakan, seni budaya wayang kulit adalah salah satu acara pemersatu bangsa. Wayang ini, meski diadakan di Tanah Batak Mandailing, tapi masyarakat Labuhanbatu Selatan sangat antusias menyaksikannya.

    Dan berharap agar kegiatan ini dapat dilaksanakan rutin dan berkesinambungan, untuk mengangkat kearifan lokal agar tetap terpelihara untuk menjadi pemersatu bangsa. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.