Jumat, 16 November 2018

Menilik Kehidupan Prajurit TNI di Tapal Batas

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kehidupan TNI di Tapal Batas, dari mengajar sampai membuka jalan di Sanggau, Kalimantan Barat. TEMPO/Dewi Nurita

    Kehidupan TNI di Tapal Batas, dari mengajar sampai membuka jalan di Sanggau, Kalimantan Barat. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Makan nasi berlauk daun singkong tumbuk, sudah menjadi hal yang biasa bagi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di tapal batas. Hidup di tengah-tengah masyarakat yang penuh keterbatasan membuat para prajurit terbiasa menjalani berbagai peran.

    Baca: Cari Korban Lion Air, TNI-Polri Cirebon Sisir Perairan Indramayu

    Dari berladang untuk memenuhi kebutuhan pangan, mengajar, mengobati orang sakit, sampai membuat jalan dan jembatan untuk patroli, harus mereka lakukan. Setidaknya, hal itu yang tengah dilakukan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Batalyon Infanteri 511/Dibyatara Yodha di perbatasan wilayah Entikong, Kalimantan Barat.

    Komandan Satgas Pamtas Yonif 511/DY Letnan Kolonel infanteri, Jadi mengatakan saat ini mereka tengah bertugas mengamankan daerah perbatasan tersebut. Terdapat 29 pos yang menjadi area tanggung jawabnya di sektor barat. Setiap pos memiliki tanggung jawab terhadap wilayah di sekitar pos. "Kami selalu menekankan kepada anggota untuk membantu kesulitan masyarakat, diminta ataupun tidak diminta," ujar Letkol Jadi, saat Tempo menyambangi wilayah tugasnya pada Rabu, 31 Oktober 2018.

    Jadi tidak mengherankan lagi apabila di daerah perbatasan terlihat orang berbaju loreng mengajar di ruang-ruang kelas. Para prajurit tersebut biasanya mengajar pelajaran umum. Saat mengajar, mereka juga akan menyampaikan soal wawasan kebangsaan dan cinta tanah air, agar anak-anak di wilayah perbatasan memiliki rasa nasionalisme.

    Lokasi titik nol pembukaan jalan ke Desa Bagan Asam, dimulai dari Dusun Mungkup Cabe, Desa Teraju sampai ke Desa Bagan Asam. Sanggau, Kalimantan Barat. TEMPO/Dewi Nurita
    Komandan Pos Gun Tembawang, Letnan Dua Inf Gatot Primadasa merupakan salah satu personel TNI yang menjadi guru di Sekolah Dasar di Dusun Gun Jemak, Desa Suruh Tembawang, Entikong, Kalimantan Barat. Di desa tersebut, hanya ada satu sekolah dasar negeri dan belum ada sekolah menengah pertama, apalagi sekolah menengah atas. "Tenaga pendidik di sini sangat kurang. Hal itu membuat saya merasa terpanggil untuk membantu mengajar anak-anak di perbatasan," ujar Gatot, ketika ditemui sedang bertugas.

    Baca: Kemendag Kembali Minta Bantuan TNI Atasi Barang Selundupan

    Gatot menuturkan, sering terkendala cuaca buruk saat akan berangkat dari pos TNI yang berlokasi di seberang sungai ke Dusun Gun Jemak. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju dusun itu sekitar 20 menit. "Kalau hujan, air sungai ini naik, kami tidak bisa ke mana-mana. Jalan juga tak bisa dilalui," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.