Rabu, 24 Oktober 2018

Cerita Sutopo Pernah Menolak Tawaran Jadi Humas BNPB

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memperlihatkan hasil foto bersama Presiden Joko Widodo di kantornya, Jumat, 5 Oktober 2018 (Andita Rahma)

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memperlihatkan hasil foto bersama Presiden Joko Widodo di kantornya, Jumat, 5 Oktober 2018 (Andita Rahma)

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menjadi buah bibir dalam sepekan ini. Profesionalisme Sutopo sebagai juru bicara BNPB saat terjadi bencana alam membuatnya diundang Presiden Joko Widodo atau Jokowi ke Istana Presiden, kemarin.

    Jokowi mengaku kagum dengan dedikasi Sutopo dalam menjalani profesinya sebagai sumber informasi kepada masyarakat saat terjadi bencana. Padahal, di satu sisi, Sutopo menderita penyakit kanker paru-paru stadium 4B.

    Baca: Pesan Jokowi kepada Sutopo BNPB: Tetaplah Menjadi Inspirasi

    "Ini saya kira sangat menginspirasi kita semuanya, bahwa dalam kondisi beliau yang sakit tetap masih mendedikasikan semangatnya untuk pekerjaan yang digelutinya dalam sekian tahun ini," ucap Jokowi pada Jumat, 5 Oktober 2018.

    Perjalan Sutopo hingga menjadi Humas BNPB berawal dari tawaran Kepala BNPB saat itu, Syamsul Maarif. Tepatnya saat Sutopo mendampingi Syamsul bertolak ke Mentawai, Sumatera Barat, yang baru diterjang tsunami pada Oktober 2010. Saat itu, Sutopo merupakan Direktur Pengurangan Risiko Bencana di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). "Saya ditawari dan saya tidak mau," ujar Sutopo dalam wawancara dengan Koran Tempo.

    Sutopo menjadi staf di BPPT sejak 1994. Selama tujuh tahun, alumnus Universitas Gadjah Mada itu diamanatkan di bagian hujan buatan. Pada 2001, Sutopo digeser ke sumber daya alam dan bencana hingga 2010. Lalu Sutopo diangkat menjadi Direktur Pengurangan Risiko Bencana sebelum dia ditawari di Humas BNPB.

    Baca: Bahagianya Sutopo Purwo Nugroho Bisa Video Call dengan Raisa

    Sutopo saat itu emoh jika harus menjadi humas. Menurut dia, jabatan humas tidak keren lantaran rutinitas pekerjaan yang hanya meliput dan mempublikasikan aktivitas bosnya. "Saya doktor, saya tidak mau," katanya.

    Penawaran jadi Humas BNPB serta Kepala Pusat Data dan Informasi datang ketiga kalinya kepada Sutopo. Pada November 2011, Sutopo memutuskan menerimanya. Dia pun dilantik dengan rangkap dua jabatan tersebut.

    Sutopo tak menyangka perjalanannya di Humas BNPB akan panjang hingga masuk tahun kedelapan. Dia pun mengaku tidak mempunyai latar belakang komunikasi dan ilmu kehumasan. "Sambil jalan saja," tuturnya.

    Baca: Cerita Kegembiraan Sutopo kepada Jokowi

    Menurut Sutopo, seorang humas harus mempunyai prinsip. Baginya, humas harus cepat untuk menyebarkan informasi, khususnya saat ada krisis atau bencana dengan mengandalkan data dan fakta.

    Dalam kondisi ada bencana, Sutopo mempercepat rilis yang harus disebar kepada wartawan. "Bayangan saya, satu wartawan bisa menjangkau ribuan, bahkan jutaan pembaca. Saya tak mungkin jangkau semua itu," ucapnya.

    Sutopo pun mengaku sudah akrab dengan media sejak dia masih di BPPT. Menurut dia, sebagai humas, dia harus menjaga hubungan dengan para jurnalis dan mendata nomor-nomor wartawan untuk menyebarkan informasi kebencanaan.

    Menjalani delapan tahun di Humas BNPB, Sutopo pantang merasa jenuh. Menurut dia, tiap seorang harus mampu membesarkan jabatannya, bukan dibesarkan jabatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.