Kader Demokrat Merapat, Nasdem Bantah Terkait Kasus di Kejagung

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR Jhony Plate (kiri) dan ketua DPP Partai Nasdem Zulfan Lindan, memberikan keterangan kepada awak media, di Gedung DPP Partai Nasdem, Jakarta, 7 Agustus 2017. DPP Partai NasDem menegaskan bahwa rekaman pidato ketua fraksi Partai Nasdem DPR Viktor B Laiskodat di Kabupaten Kupang, NTT pada 1 Agustus 2017 telah diedit rekamannya yang menyebut Partai Gerindra sebagai salah satu partai yang mendukung kelompok gerakan khilafah. TEMPO/Imam Sukamto

    Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR Jhony Plate (kiri) dan ketua DPP Partai Nasdem Zulfan Lindan, memberikan keterangan kepada awak media, di Gedung DPP Partai Nasdem, Jakarta, 7 Agustus 2017. DPP Partai NasDem menegaskan bahwa rekaman pidato ketua fraksi Partai Nasdem DPR Viktor B Laiskodat di Kabupaten Kupang, NTT pada 1 Agustus 2017 telah diedit rekamannya yang menyebut Partai Gerindra sebagai salah satu partai yang mendukung kelompok gerakan khilafah. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Johny G Plate menampik tudingan Partai Demokrat terkait bergabungnya Vicky Lumentet ke Partai Nasdem. Vicky adalah Wali Kota Manado yang sebelumnya juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Sulawesi Utara.

    Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan sebelumnya melontarkan dugaan terkait menyeberangnya Vicky ke Partai Nasdem. Hinca mengatakan, pindahnya Vicky ditengarai terkait dengan kasus hukum yang terkait dengan dirinya di Kejaksaan.

    Baca: Demokrat Pecat Vicky Lumentut yang Menyeberang ke NasDem

    "Saya kira dalam tugasnya Jaksa Agung bekerja atas dasar hukum, bukan politik," kata Johny kepada Tempo, Jumat, 28 September 2018.

    Hinca mengaku mendapat kabar bahwa Vicky sudah dua kali dipanggil Kejaksaan Agung atas perkara dugaan tindak pidana korupsi bantuan penanganan banjir di Manado tahun 2014. Pemanggilan pertama dan kedua, ujar Hinca, terjadi pada 24 Agustus dan 24 September. Hinca mengatakan Vicky diagendakan kembali diperiksa sebagai saksi pada 2 Oktober mendatang. Menurut dia, partai telah berusaha mengklarifikasi informasi ini ke Vicky, tetapi nihil hasil.

    Vicky pun disebut masih menghadiri perayaan hari ulang tahun ke-17 Partai Demokrat yang digelar di Djakarta Theater, Jakarta Pusat pada 17 September lalu. Vicky juga mengikuti konsolidasi DPP dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat se-Indonesia.

    Baca: Empat Politikus Demokrat yang Dukung Jokowi di Pilpres 2019

    Sepuluh hari kemudian, kata Hinca, DPP Demokrat mengetahui Vicky berada di kantor Partai Nasdem dan hampir dipastikan bergabung ke partai yang dipimpin Surya Paloh itu. Hinca pun menyebut Vicky tengah mencari lokomotif perlindungan politik. Sebab, Jaksa Agung M Prasetyo merupakan politikus Partai Nasdem.

    Johny tak menjawab jelas kapan Vicky resmi bergabung ke partainya. Ia hanya mengatakan perpindahan dari satu partai ke partai lainnya adalah hal yang lazim terjadi.

    Ia pun enggan menanggapi lebih lanjut polemik itu. "Marilah kita jangan buang energi untuk hal kecil, tapi gunakan energi positif untuk menyelesaikan masalah bangsa," kata Johny.

    Baca: Survei: Demokrat Paling Tidak Solid Dukung Prabowo - Sandiaga


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.