Begini Perjalanan Kasus Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan ditahan Kejaksaan Agung pada Senin 24 September 2018|Tempo|Ryan Dwiki Anggriawan

    Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan ditahan Kejaksaan Agung pada Senin 24 September 2018|Tempo|Ryan Dwiki Anggriawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kejaksaan Agung akhirnya menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. Karen sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka sejak Maret 2018 lalu.

    Ia menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi investasi perusahaan minyak milik negara itu di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009. Penyidik memperkirakan proyek ini merugikan negara hingga Rp 568 miliar.

    Baca juga: Kasus Karen Agustiawan, Kejaksaan Agung Cari Bukti ke Australia

    Selain Karen Agustiawan, Kejaksaan juga menterapkan mantan Direktur Keuangan Pertamina Frederik Siahaan dan Chief Legal Counsel and Compliance, Genades Panjaitan sebagai tersangka. Pada akhir Januari lalu, kejaksaan juga telah menetapkan mantan Manager Merger & Acquisition Direktorat Hulu Pertamina, berinisial BK, sebagai tersangka.

    Perkara ini berawal dari aksi korporasi Pertamina membeli sebagian aset milik ROC Oil Company Ltd di blok migas BMG Australia. Akuisisi tertuang dalam Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tertanggal 27 Mei 2009.

    Belakangan, kejaksaan menduga pengusulan investasi tak sesuai dengan Pedoman Investasi. Pengambilan keputusan ditengarai tak disertai uji kelayakan dan tanpa persetujuan Dewan Komisaris.

    Baca juga: Tersangka Korupsi Pertamina, Karen Agustiawan Pernah Mengajar di Harvard

    Walhasil, peruntukan dan penggunaan dana senilai US$ 31,49 juta, beserta biaya yang timbul lainnya senilai US$ 26,8 juta, dinilai tidak memberikan manfaat atau keuntungan kepada perseroan. Perhitungan kerugian negara dalam perkara ini melibatkan akuntan publik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.