Senin, 23 Juli 2018

Idrus Marham Kaget Eni Saragih Ditangkap KPK di Rumahnya

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sosial Idrus Marham bersiap meninggalkan gedung KPK setelah menjalani pemeriksaan terkait kasus suap Bakamla, Jakarta, 21 Mei 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Sosial Idrus Marham bersiap meninggalkan gedung KPK setelah menjalani pemeriksaan terkait kasus suap Bakamla, Jakarta, 21 Mei 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Sosial Idrus Marham mengaku kaget saat Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap politikus Golkar Eni Maulani Saragih di rumahnya. Idrus mengatakan saat penangkapan dirinya sedang merayakan ulang tahun anak bungsunya.

    "Ya tentu saya kaget, kami lagi ngerayain ulang tahun anak, ada beberapa tamu lagi cerita-cerita," kata dia di rumah dinasnya di Jalan Widya Chandra, Jakarta, Jumat, 13 Juli 2018.

    Baca: Begini Kedekatan Eni Saragih dengan Menteri Sosial Idrus Marham

    Idrus mengatakan Eni adalah satu di antara 10 kawannya yang turut diundang dalam acara itu. Selain itu, Idrus juga mengundang orang tua dan teman anaknya di sekolah. "Hari itu ada ulang tahun anak saya. Saya undang teman-teman sekolahnya. Pada saat yang sama juga hadir beberapa teman saya, termasuk Eni," kata Idrus.

    Idrus mengatakan saat sedang ngobrol, pukul 15.10 tiba-tiba tim dari KPK datang. Idrus sendiri yang menyambut tamu dadakan itu. Kepada Idrus, tim KPK menunjukan surat KPK bertuliskan nama Eni. "En, kamu harus ikut (KPK)," tutur Idrus ke Eni kala itu.

    Mendengar kabar KPK akan menangkapnya, Eni syok. Meski syok, Idrus mengatakan Eni manut dan dibawa ke KPK. "Saya antar sama-sama ke mobilnya KPK," kata Idrus.

    Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan Eni ditangkap bersama delapan orang, yakni staf ahli, sopir dan pihak swasta. Kini mereka bersembilan tengah menjalani pemeriksaan di gedung KPK.

    Baca: Penangkapan KPK di Rumah Dinas Mensos, Apa Kata Idrus Marham?

    Febri menuturkan KPK menduga ada transaksi antara pihak swasta dan penyelenggara negara sehubungan dengan kewenangan Komisi Energi DPR. Menurut dia, OTT ini bermula dari laporan masyarakat. "Saat dicek silang ke lapangan ditemukan bukti-bukti telah terjadi transaksi antara pihak swasta dan penyelenggara Negara."

    Dalam OTT itu, KPK juga menyita uang senilai Rp500 juta. KPK akan mengumumkan status hukum kasus ini setelah 24 jam.

    RYAN DWIKY ANGGRIAWAN | M ROSSENO AJI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Zainul Majdi Memihak Prabowo di Pilpres 2014, Kini Memilih Jokowi

    Tuan Guru Bajang Zainul Majdi memberi dukungan pada Jokowi untuk Pemilihan Presiden 2019. Padahal ia dan dua tokoh ini sebelumnya mendukung Prabowo.