Selasa, 25 September 2018

Tanggapan Mahfud MD Masuk Daftar Cawapres Jokowi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD usai mengunjungi Penyidik KPK Novel Baswedan di rumah sakit Jakarta Eyes Center di Menteng, Jakarta Pusat, 11 April 2017. TEMPO/Yohanes Paskalis

    Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD usai mengunjungi Penyidik KPK Novel Baswedan di rumah sakit Jakarta Eyes Center di Menteng, Jakarta Pusat, 11 April 2017. TEMPO/Yohanes Paskalis

    TEMPO.CO, Pematangsiantar - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, memberikan tanggapan mengenai namanya yang disebut berpotensi menjadi cawapres Jokowi dalam pilpres 2019.

    "Saya serahkan kepada Presiden Jokowi dan partai politik," kata Mahfud di Kedai Kopi Kok Tong, Kota Pematangsiantar, pada Selasa, 10 Juli 2018.

    Baca: Survei LSI Denny JA Pascapilkada, Ini Tokoh Ideal Cawapres Jokowi

    Mahfud mengatakan tidak mau mencampuri urusan pengusulan menjadi cawapres Jokowi. Menurut dia, persoalan tersebut bukan wilayahnya. "Konstitusinya begitu, jadi saya pasif di situ," katanya.

    Nama Mahfud MD sempat disebut sebagai salah satu kandidat cawapres Jokowi. Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani menyebut Mahfud adalah satu dari 10 nama kandidat cawapres yang telah dikantongi oleh Jokowi. Nama cawapres Jokowi itu berasal dari latar belakang partai politik, militer, dan Islam.

    Baca: Sekjen PPP Ungkap 9 dari 10 Nama Kandidat Cawapres Jokowi

    Sementara itu, survei dari Lingkaran Survei Indonesia Denny JA juga memasukkan nama Mahfud MD sebagai salah satu cawapres ideal Jokowi dari kalangan tokoh agama berpengaruh. Mahfud mendapat 9,5 persen suara, ada di bawah nama lain seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin 21 persen, tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin 17,2 persen, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi 12,3 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Haringga Sirla, Korban Ketujuh Ricuh Suporter Persib dan Pesija

    Haringga Sirla menjadi korban ketujuh dari perseteruan suporter Persib versus Persija sepanjang 2012 sampai 2018.