Jumat, 21 September 2018

Fahri Hamzah Tolak Anies Baswedan Jadi Capres di 2019, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah usai menjalani pemeriksaan lanjutan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Rabu, 2 Mei 2018 TEMPO/Andita Rahma

    Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah usai menjalani pemeriksaan lanjutan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Rabu, 2 Mei 2018 TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta -Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah memilih tidak setuju Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencalonkan diri sebagai presiden. Dia mengingatkan Anies soal gelaran Pilkada DKI Jakarta 2017 yang menurut dia berdarah-darah.

    "Saya merasa rakyat Jakarta janganlah dipermainkan seperti ini. Pilkada DKI yang lalu berdarah-darah. Bacalah tanda-tanda zaman, jangan lupa," kata dia lewat laman Twitternya @Fahrihamzah, Selasa, 10 Juli 2018.

    Baca : Fahri Hamzah Batal Cabut Laporannya, Presiden PKS Tidak Berkomentar

    Fahri Hamzah mengatakan tidak setuju Anies mencapreskan diri seperti saat dia menolak Joko Widodo mencalonkan diri menjadi presiden pada 2014. Dia mengatakan jangan mempermainkan rakyat Jakarta.

    "Saya tidak setuju @aniesbaswedan maju jadi capres, sederhana karena saya dulu tidak setuju @jokowi meninggalkan jabatannya di Jakarta," kata dia.

    Sebelumnya, nama Anies digadang-gadang maju sebagai capres oleh partai yang membesarkan nama Fahri yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sementara, Partai Gerindra berwacana mengusulkan Anies maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

    Fahri Hamzah tidak menjelaskan maksud dia soal Pilkada Jakarta yang berdarah-darah. Namun, seperti diketahui gelaran Pilkada DKI 2017 diikuti oleh gelombang unjuk rasa yang menuntut calon Gubernur inkumben Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dipenjara karena dianggap menista agama Islam.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.